Traveling Without Tourist Attraction 3


Melakukan wisata ke tempat yang ternyata hampir tidak memiliki obyek wisata sangat ironis. Suasananya jadi benar-benar tidak menyenangkan. Tidur tak nyenyak, nyamuk jadi banyak, nafsu makan hilang, nafsu membunuh (nyamuk) meningkat, orang-orang terlihat menjengkelkan dan otomatis cewek-cewek lokal jadi kayak cowok, tidak menarik lagi. Mungkin situasi seperti ini yang dikatakan ABG tetangga sebelah rumah dengan nama ‘mati gaya’. Atau mungkin mereka akan berkata, “bunuh aja gue!”. Untung Lex tidak segaul itu, dan masih bisa menahan diri untuk tidak menuntut Departemen Pariwisata.

        Lex sedang berada di suatu kota di Sumatera Selatan. Sebenarnya penduduk lokal dari segi fisik enak dipandang. Karena kulitnya putih bersih dan wajah mereka seperti Indocina. Gaya bicaranya mendayu-dayu khas melayu. Tapi kebanyakan dari mereka sudah tidak lagi memiliki gigi yang bagus meski usianya masih belia.

Ketika Lex sedang makan di suatu rumah makan khas setempat, seorang wanita muda berparas ayu mengajaknya kenalan. Kulitnya putih, rambutnya lurus sebahu, wajahnya lumayan, kesan pertama yang mempesona. Selesai berjabat tangan dia menyebutkan namanya sambil tersenyum manis. Langsung saja giginya yang hitam-hitam pecah bermunculan. Lex membatin, “Tuhan maha adil. Memang tidak ada manusia yang sempurna”.
        Di kota ini Lex tinggal di tempat salah satu saudaranya. Di hari pertama tiba, suasana masih normal karena lingkungan rumah saudaranya masih asri. Banyak pohon besar menghasilkan oksigen yang berlebih. Adem ayem. Tetangga juga ramah-ramah. Lex banyak menghabiskan waktu untuk berkeliling di sekitar rumah saja. Mengamati tingkah laku orang-orang yang unik, cara bicara, kehidupan sehari-hari mereka. Semuanya hal yang baru di mata Lex. Karena budaya di sini jauh berbeda dengan budaya tempatnya tinggal. 
Dengan mengamati perilaku orang, merupakan suatu keunikan sendiri bagi Lex. Dia mengajak beberapa tetangga untuk ngobrol-ngobrol. Lex jadi tahu kalau penduduk lokal suka sekali makan ditemani cuka sebagai bumbu pelengkap. Itulah yang menyebabkan  gigi mereka rusak. Makanan khas mereka kebanyakan terbuat dari ikan karena mereka memiliki sungai yang menghasilkan banyak ikan. Hiburan masyarakat yang disukai adalah organ tunggal. Pertunjukan musik dimana penyanyi hanya diiringi satu organ/keyboard yang menghasilkan suara seperti konser musik. Aliran musik yang dimainkan kalau bukan dangdut pasti house musik. Pinggul atau kepala digoyang.
Satu kebiasaan buruk warga, menurut satu tetangga adalah tusuk dengan pisau. Harap waspada ketika menonton organ tunggal tadi. Salah senggol atau kakinya terinjak bisa berujung maut. Dan menurutnya, semakin banyak jumlah tusukan pisau di punggung atau tubuh bagian lain, maka semakin jantan orang tersebut. Hah?!
Tidak heran jika sebagian besar warga kemana-mana bawa pisau di pinggangnya. Mungkin kalau negara tetangga mengetahui hal ini, mereka akan segan mengambil pulau dari Indonesia.
        Hari selanjutnya sang saudara mengajak Lex berkeliling. Tempat yang pertama dikunjungi adalah GOR (Gedung Olah Raga). Lex protes karena dia tidak merasa atletis sama sekali. Lex nurut setelah sang saudara menjelaskan wisata kuliner di sini enak. Halaman GOR memang cukup luas, banyak pohon besar bertebaran. Banyak tukang jualan berserakan. Sebagian berbaris teratur sebagian semaunya. Makanan yang dijual juga beragam. Ada nasi goreng, sate, pecel, soto, es buah, lontong, martabak, dan pastinya makan khas setempat. Herannya semua menu makanan disediakan cuka sebagai bumbu, seperti sambal pedas kalau di warung normal. 
Makanannya enak-enak dan hampir semuanya pedas. Sambil makan mereka bisa melihat pemandangan kendaraan yang lalu lalang, olahragawan dengan peluh di jidat, dan daun-daun yang berjatuhan. Sama sekali bukan hal yang dramatis.
        Hari berikutnya mereka menjelajahi mall yang ada di kota itu. Waktu itu mall nya ada tiga, dan semuanya tidak terlalu besar. Isinya juga toko-toko yang biasa seperti mall pada umumnya. Barang elektronik lumayan murah di kota ini. Yang paling banyak dan mencolok adalah penjual DVD. Setiap penjual berlomba meraih gelar sebagai pemasang speaker terbesar.  Kanan kiri speaker dengan ukuran super jumbo berdentum keras. Setiap penjual memainkan musik andalan masing-masing yang tidak jauh dari aliran house musik. Lagu-lagu pop diaransemen menjadi disco darurat. Berisik bukan main mall di kota ini. Pembeli terlihat teriak-teriak memilih lagu, sampai urat leher menonjol berwarna kebiruan.

        Hari terakhir Lex menuntut diajak ke tempat yang paling menarik dan menjadi andalan. Dia bosan hanya jalan-jalan ke tempat yang banyak dijumpai di Indonesia. Sang saudara berjanji akan mengajaknya ke tempat spesial di kota bahkan di Propinsi itu. Tibalah mereka di suatu tempat yang disebut sungai. Airnya kuning dekil dan bau. Tapi di pinggirannya banyak warga yang memanfaatkannya untuk mandi, mencuci, menimba air mungkin untuk dimasak, memancing, bahkan ada yang buang air besar juga. Pemandangan yang lucu dan unik. 
“apa yang spesial?” tanya Lex. 
Sang saudara menceritakan kalau dulu zaman penjajahan, sungai ini terkenal, jembatannya juga. Katanya dulu kapal-kapal besar mengangkut rempah-rempah masuk dari luar negeri melalui sungai ini. 
“loh, kok bisa? kan ada jembatannya?emang dalam?” Lex mulai sewot. 
Kata sang saudara jembatan ini dulu bisa terbelah di tengah dan naik ke atas, jadi kapal besar bisa lewat. Hebat juga. Dan sungainya dikeruk dalam, pasirnya dijadikan bahan bangunan.
Memang jembatan itu terlihat gagah, dengan pondasi yang terlihat kekar dan tali-tali besar yang dulu untuk menarik jembatan masih terlihat kuat. Andai di foto dari jarak agak jauh, jembatan ini pasti menjadi obyek yang menawan. Dan andai airnya masih bersih, tidak kalah bila diadu dengan sungai Mekong di Vietnam. Tinggal dilengkapi sarana prasarananya seperti kapal nelayan untuk turis di Venice, Italy. Tidak kalah romantis.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

3 thoughts on “Traveling Without Tourist Attraction