That Would be Toba Dream

Toba Dream

    Keesokan paginya, matahari pagi menerobos masuk melalui fentilasi jendela membangunkan dua sahabat yang tertidur pulas sisa capek di bus omprengan. Angin pagi berhembus masuk diikuti embun danau yang dingin. Betapa cerah langit pagi itu. Secerah hati mereka yang siap berpetualang independen menyusuri Danau Toba dan Pulau Samosir. Di benak Lex, lain kali ke tempat ini, dia akan menyaksikan langsung sunrise di pucuk perbukitan sebelah timur sana.
Baru terlihat jelas keindahan tepi pantai danau di kelilingi pepohonan di perbukitan. Beberapa hotel mewah berdiri di tebing-tebing bukit untuk mendapatkan spot yang paling indah menikmati keindahan danau. Beberapa wisatan terlihat joging di pinggiran danau, sedangkan warga setempat telah mulai sibuk dengan aktifitas masing-masing. Beberapa pemuda terlihat sedang sibuk mengepel lantai kapal, ibu-ibu menjajahkan dagangannya, petugas hotel menyiapkan pesanan free breakfast pengunjung, anak kecil belajar berjalan ditemani sang bapak, anjing-anjing mengais tumpukan sampah, kawanan ayam berlari kesana kemari. Sedangkan Lex dan temannya masih menikmati pemandangan di balkon.
    Setelah mengemasi diri dan barang bawaan, tidak lupa mereka sedikit merapikan kamar sebagai ungkapan terimakasih atas pelayanan yang diberikan hotel. Kemudian menikmati jatah free breakfast dan langsung bergegas menuju pelabuhan kecil, tempat pemberangkatan kapal penyebrangan ke Pulau Samosir. Pelabuhannya tidak terlihat seperti pelabuhan. Untuk mendapatkan posisinya saja mereka rajin bertanya ke siapa aja yang ditemui. Tidak ada tanda khusus, apalagi berukuran besar yang menunjukkan lokasi pelabuhan. Sungguh malang obyek wisata potensial ini. Identitasnya banyak terabaikan.

    Kapal yang mereka naiki terdiri dari dua lantai. Tempat favorit tentu saja lantai atas yang dapat memandang puas keindahan alamnya. Penumpang saat itu hampir semuanya rombongan ABG yang mungkin sedang tour dari sekolahnya. Dipikiran Lex, suasana bakal berisik seperti wisatawan ABG pada umumnya, dan ternyata benar. Yang perempuan asik cekakak cekikik layaknya burung dara memamerkan suaranya untuk menarik perhatian sang jantan. Sedangkan yang laki-laki beragam. Ada yang sok cool, ada yang terpesona dengan alam sekitar, dan tentu saja, ada yang pacaran. Diam-diam Lex iseng mengambil gambar mereka yang ternyata sepasang tangan tengah bergenggaman di bawah sana. Seperti Leonardo dan Kate di Titanic.
    Lex menceritakan kepada temannya itu, kalau ABG bule yang pernah juga sekapal dengannya dulu di Thailand sangat berisik. Berbeda dengan ABG ini. Remaja-remaja bule di sana sangat tidak sopan. Mereka tidak peduli dengan terusiknya wisatawan lain karena cekikikan mereka. Atau dengan busana mereka yang memamerkan semua lekukan tubuh yang baru terbentuk di usia segitu. Dunia serasa milik mereka, sedangkan kita seperti ngontrak di dunia itu. Jangankan pegangan tangan, french kiss saja dilakukan dengan cuek di depan orang tuanya. Oww.. Dikapal ini, yang mereka tumpangi sekarang, kedua sejoli tadi malu-malu hanya untuk berpegangan tangan. Sesekali di lepas bila dirasa kurang aman atau ada yang pelototi.
    Sepanjang perjalanan kapal, penumpang dihibur oleh dua orang anak kecil yang bernyanyi dengan gaya teriak-teriak. Urat-urat di leher mereka sampai mengeras, biru, seperti mau pecah. Mukanya juga memerah kehitaman senada dengan celana sekolah merah yang dikenakan. Betapa berat usahanya menghasilkan suara merdu. Lagu-lagu yang didendangkan semuanya berbahasa lokal, Batak. Nadanya indah, tapi liriknya tidak jelas. Mereka malah terlihat seperti anak sedang buang air besar yang sudah tidak keluar selama seminggu. Sadis.
    Tidak lama setelah kapal menjorok te tengah danau, sayup-sayup lex mendengar suara anak kecil berteriak. Semakin lama semakin jelas dan tidak hanya satu suara. Semakin jelas suara itu berkata “lempar uang, lempar uang!”. Lex yang duduk di tepian kapal mencari sumber teriakan itu. Batinnya berkata, apa mungkin ada sekelompok anak sedang latihan berenang terus tenggelam dibawa arus kapal.. Matanya mencari-cari, telingannya bergoyang-goyang. Dan akhirnya berfokus pada sekelompok anak kecil yang berenang di bawah kapal.
    Kulit mereka hitam, badannya kurus, masih kecil-kecil, hanya mengenakan celana dalam, bahkan ada yang bugil. Sambil berenang-renang mereka meminta Lex melemparkan uangnya ke mana saja dan mereka akan mengejarnya dengan berenang. Tentunya uang itu tidak akan dikembalikan, menjadi sepenuhnya hak mereka. Kreatif juga usaha anak-anak ingusan ini. Karena penasaran, Lex melemparkan koin lima ratus rupiahnya. Dengan cepat sambil berebutan, bocah-bocah itu telah berhasil berenang kemudian menyelam mengejar koin lima ratus rupiah yang terkena gaya grafitasi tenggelam ke dalam air. Lex terpesona. Dia dan temannya melemparkan uang secara bersamaan ke tempat yang berjauhan. Sang bocah terdiam sejenak, seperti patung pancoran. Mereka bingung mau mengejar yang mana. Sejurus kemudian, terpisah secara naluriah berenang ke arah kedua koin lima ratus rupiah.
Penumpang kapal yang lain tertarik dan ikut bergabung melemparkan koin. Sang bocah, dengan mulut dipenuhi koin terpacu adrenalinnya melihat ramainya penumpang yang akan melemparkan koin. Seperti ikan mas koki, matanya membesar dan mulutnya kembang kempis monyong. Salah seorang anak berkata,”lempar uang sepuluh ribu bang!”. Nah, sifat asli manusianya keluar juga. 

    Penumpang mulai menghujani mereka uang kertas yang nominalnya jauh lebih besar dari koin tadi. Tapi pertunjukan malah tidak semeriah tadi, karena daya lempar uang kertas sangat dipengaruhi angin yang lewat. Kebetulan angin tidak kencang, jadi uang kertas hanya terjatuh di dekat kapal. Tidak ada aksi seperti lumba-lumba yang berenang akrobatik mengejar uang yang dilemparkan. Ditambah komplotan mereka mulai berdatangan sebagai bala bantuan. Menggunakan sampan kecil menampung uang yang telah dikumpulkan dan ikut membantu mengejar uang yang yang agak jauh. Tidak kedinginan, tidak basah, tidak terlalu capek, simpel dan curang. Lex kembali terpesona.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*