Thailand


Paling enak menjalani hobi sama teman yang juga mempunyai hobi yang sama. Bisa seru-seruan, lucu-lucuan, gila-gilaan bareng. Perjalanan yang tadinya udah menyenangkan jadi tambah menarik lagi. Apalagi kalau teman travelling itu cewek dan enak dilihat pula. Bahagianya hidup ini.
Lex dan Racy, dua sahabat yang bertemu secara tidak sengaja melalui group travelling di internet. Mereka berdua memiliki hobi yang sama, travelling pastinya. Kesamaan unik dari keduanya adalah sama-sama suka hidup sederhana. Low profile kata orang-orang.


Racy orangnya baik dan apa adanya. Sepintas kelihatan penganut cuex is the best. Tapi kalau sudah kenal secara otomatis jadi suka sama pembawaannya, gaya bicaranya, senyumnya dan terutama pada matanya. Menurut si Lex matanya mirip mata VJ Hannah. Kalau masih belum kenal, itu lho yang sebagai Nyonya Tio di film ‘Awas Ada Sule’. Matanya seperti berbicara kalau memandang serius. Indah. Mimpi apa si Lex bisa travelling berduaan dengan makhluk seindah ini.


    Tujuan mereka adalah Phi Phi island, Thailand. Keduanya menyukai tempat itu karena suasananya yang romantis. Itu juga karena melihat photo-photo googling di internet. Entah dasar pemikiran apa dua mahluk ini memiliki pandangan yang sama pada keromantisan Phi Phi. 
Racy pernah berkata, “apa mungkin karena kita sama-sama scorpio ya..? jadi sukanya yang romantis-romantis..” 
Lex cuma diam tersenyum melihat kata romantis yang keluar dari mulut seorang Racy dengan dukungan dari mata indahnya. “Help me God” batinnya berseru.
Lex membantu Racy menyusun list barang-barang yang harus dibawa via email. Racy membantu Lex mencari informasi sebanyak mungkin mengenai cewek-cewek di Phi Phi. Simbiosis mutualisme. Berawal dari keterbukaan dan apa adanya, Lex memulai pertemanannya dengan Racy. Tidak ada yang perlu ditutupi begitu rapat, dan Racy merasa nyaman dengan itu semua.


    Hari minggu, tanggal 17 April jam 2 siang, mereka bertemu di Bandara Soekarno Hatta. Lex janji mengenakan kaos warna biru, warna favoritnya dan Racy menggunakan warna pink, yang juga favoritnya. Warna baju yang disepakati untuk memudahkan mencari satu sama lain. Dan siang itu di depan restoran cepat saji keberangkatan internasional keduanya bertemu untuk yang pertama kalinya.
Lex : “Hai.. Racy ya?”
Racy : “Eh iya, hai juga..Lex?
Keduanya diam sejenak, saling senyum dan sesekali melirik interogasi. Lex mencairkan suasana, “tenang, gw gigitnya gak kencang kok..”
Racy kembali tersenyum ramah dan matanya tambah indah.
“gw juga gak gigit kok..” katanya lembut.
“cuma pengen jelas aja ngeliat orang yang bakal ngejagain gw seminggu ke depan” suaranya sedikit manja.
Lex kembali tersenyum, tapi ada sesuatu yang menyentuh hatinya. Racy menuntut kedewasaan si Lex. “mimpi apa gw semalam”, batin Lex.
“dapet semua daftar list barang bawaan lo?” tanya Lex
“dapet. Thanks ya..”
“eh ni, di hape gw ada banyak info cewek-cewek pesanan lo” katanya cuek.
Racy menyerahkan handphonenya, dan Lex langsung meraihnya. Lex sempat menggenggam jari telunjuk dan jempol Racy yang sangat halus. Hati Lex berdesir. Racynya masih cuek. Lex membluetooth pesanannya ke HP nya.
Kemudian mereka berdua segera check in ke counter di dalam bandara. Dengan isengnya si mbak-mbak tukang tiket bertanya ke Racy, “tiket suaminya mana mbak?” Racy menjawab, “dia temen saya mbak, minta aja ke orangnya”. Hati lex menguncup layu.


    Perjalanan ke Bandara Phuket di tempuh selama dua jam. Dan selama dua jam itu Lex dan Racy memulai pengenalan lebih jauh lagi satu sama lain. Racy anak kedua dari empat bersaudara. Bekerja di salah satu perusahaan akuntan big four. Lesu ketika menceritakan waktu kerjanya yang terlalu padat, sering pulang jam dua pagi dan terpaksa harus ngekost di dekat kantornya. Racy sebenarnya pengen sekali masuk PNS. Tahun lalu dia gagal, dan meminta doa Lex agar tahun ini dia bisa lolos seleksi PNS. Dengan senang hati Lex akan berdoa untuknya.
Baru dua bulan Racy putus dengan pacarnya yang sudah berpacaran selama empat tahun dengannya. Travellingnya ini salah satu niatnya melupakan sang mantan yang susah dilupakannya dan lari sejenak dari rutinitas kerja. 
Kembali Racy meminta Lex mendoakannya, “bantuin gw doain supaya gw cepet-cepet ngelupain dia ya Lex..” pintanya. Dengan semangat dan lapang hati, Lex akan mendoakan seperti yang dimintanya. Amin.


    Dari phuket, mereka naik kapal ke Phi Phi dan membeli paket tour lokal di Phi Phi island. Paket tour lokal itu membawa peserta mengelilingi pulau-pulau eksotis dan romantis di sekitar Phi Phi. Menggunakan kapal nelayan yang dinamakan Long Tail Boat oleh penduduk setempat. Salah satu pulau yang dikunjungi adalah Maya Bay, yang merupakan tempat syuting film ‘The Beach’, Leonardo di Caprio. Sungguh romantis pulau itu.
Dalam kapal berisi peserta yang berpasang-pasangan, setidaknya terlihat seperti itu. Hanya ada seorang peserta asal Korea yang sendirian dan dua orang perempuan sahabatan. Lex dan Racy juga terlihat seperti pasangan. Mereka duduk berduaan dan jarang melakukan basa-basi dengan bule-bule lain.

    Spot pertama, mereka semua turun untuk snorkeling. Lex dan beberapa kaum adam penghuni kapal terpesona dengan tubuh putih Racy yang didukung mata indahnya. Lex tahu, mereka juga pasti setuju dengan keindahan yang dipancarkan mata Racy. Sebenarnya pasangan mereka tidak kalah seksi dengan Racy, bahkan ada pasangan dari Finlandia yang ceweknya aduhai bikin kepayang sedangkan cowoknya amit-amit. Tapi cewek-cewek itu tidak memiliki mata semenarik Racy. Pesaing Racy yang juga bermata indah adalah salah satu dari dua sekawan perempuan. Tubuhnya juga tidak kalah seksi, bahkan lebih tinggi dari Racy. Lex sempat menebarkan senyumnya ke cewek itu.
Namanya Ming, bule asal London. Bapaknya Inggris dan Ibunya Philippine. Mukanya bule ke asiaan, tinggi, kelihatan smart dan matanya indah. Sebenarnya Lex tidak terlalu memperhatikan peserta lainnya selain Racy. 
Perkenalan Lex dengan Ming berawal dari perhatian kecil yang diberikan Ming ketika melihat kaki Lex sedikit berdarah akibat terlalu semangat snorkeling. Kaki kanannya menendang karang yang sedikit lebih tinggi.
Ming: “kaki kamu berdarah tu..”
Lex: “sshhh.., makasih ya” kaget melihat kakinya yang berdarah.
Ming: “tapi gak usah takut, kelihatannya itu tidak terlalu berbahaya.., hmm mungkin kamu menendang karang yang tinggi itu ya?”
Lex: “sepertinya. Tadi aku memang lewat situ”
Ming: “tenang, sebentar juga darahnya berhenti”
Lex: “aku tidak akan segera mati kan? kakiku masih bisa maen bola kan?”
Ming: “haha..gak apa-apa..cuma tergores”


Tidak lama kemudian Racy naik, dan melihat kaki Lex berdarah. Dengan prihatin dia bertanya kenapa. Yang langsung disambut Ming dengan bahasa Inggrisnya. “gak apa-apa, cuma tergores”
Racy langsung terdiam tanpa menoleh ke Ming. Mukanya tiba-tiba muram. Racy tidak suka perhatiannya ke Lex disambut pesaingnya di kapal itu. Lex tidak menyadari kejadian barusan.
Spot kedua kembali mereka snorkeling dan menikmati buah nanas yang disambut dengan sangat antusias oleh bule-bule. Lex dan Racy hanya tersenyum melihat lahapnya mereka menghajar si nanas. “Di barat sana gak jual nanas kali ya?” bisik Racy ke Lex. Lex tersenyum.
Setibanya di spot film ‘The Beach’ suasananya sangat romantis. Ming hanya duduk menikmati pemandangan nan indah di pinggiran pantai yang dangkal. Racy asik berfoto-foto narsis dengan background keindahan pasir putih, sinar matahari yang mengintip dari balik bukit dan bule-bule yang bergaya bak fotografi handal. Ada dua long tail boat yang bersandar di pinggir pantai dangkal terlihat artistik. Entah sengaja atau tidak, tapi cukup menarik perhatian Lex dan Racy. Satu lagi kesamaan sudut pandang mereka.



    Matahari masih bersinar terik, angin laut terasa dingin dan kencang menimbulkan ombak-ombak kecil di lautan. Long Tail Boat mereka melaju kencang menghantam ombak membuat kapal bergoyang naik turun. Lex duduk di bagian belakang dan Racy di sebelahnya tapi agak jauh di ujung tepi sebelah kiri. Ming yang duduk di depan mereka sering kecipratan air di posisinya sekarang. Dia clingak-clinguk mencari di sekitar posisi yang tidak terkena cipratan air. Ketika menoleh ke arah Lex, Lex menunjuk tempat di belakangnya yang tidak terkena cipratan. Ternyata dari tadi Lex sudah memperhatikan tingkah Ming yang lucu menghindari cipratan-cipratan air. Ming langsung menuju tempat yang ditunjuk Lex. Racy melirik sok cuek.
“Duduk sini aja, cipratannya dikit” kata Lex
“iya, disitu banyak air muncrat” kata Ming polos
“nama kamu siapa?” tanya Lex
“Ming, kamu?”
“Lex”
“Dia istri kamu?”
“bukan, teman seperjalanan” jawab Lex dengan senyuman.
“Oh iya, saya orang yang keberapa kalau saya mengatakan mata kamu cantik?” goda Lex. Ming hanya tersenyum dan mukanya memerah.
Pembicaraan mereka berlanjut diselingi candaan Lex yang disambut senyum manis dan tepukan lembut di tangan Lex. Ming jadi lebih lepas.
Racy yang mendengar pembicaraan mereka membuang pandangannya jauh ke tengah laut dan keningnya mengerut. Hatinya gelisah, Racy mulai gundah.
Ming bekerja sebagai guru SLTP di London, status lajang dan sedang mencari pasangan hidup yang tepat. Lex, senyum penuh arti. “apa ini juga kebetulan?” batinnya. 
“saran saya, ingat aja kalau tidak ada manusia yang sempurna.. Tinggal kamunya aja dan pasangan kamu bagaimana melengkapi kekurangan masing-masing” kata Lex sok pinter. Ming mengangguk dan hatinya memberi ruang untuk kata-kata yang baru saja diucapkan Lex. Selama pembicaraan mereka Lex merasakan senang berbicara dengan Ming. Walau perbendaharaan English Lex tidak seberapa, tapi dia merasa nyaman dekat Ming. Ming juga tidak henti-hentinya memukul lembut tangan Lex dan senyumnya yang kelihatan tulus tak henti-hentinya terpancar dari bibir manisnya.



    Sudah 2 hari, Lex dan dua travel partners-nya berada di negeri nan exotix Thailand. Hari ini mereka berencana melakukan perjalanan backpacker ke Phi Phi Island yang pernah menjadi tempat syuting film The Beach yang terkenal itu. 


Seperti yang sudah mereka ketahui, untuk mencapai pulau itu mau tak mau harus naik kapal dari pelabuhan di dekat Phuket Town. Dan mereka harus menyewa taksi dari penginapan.
Sedikit cerita keunikan penginapan murah meriah ini adalah lantai dasarnya (lobi). Biasanya di kebanyakan penginapan pariwisata terdapat lobi di lantai dasar, yang dipenuhi perabotan modern atau cenderamata khas daerah itu. Di penginapan ini, lobi di lantai dasar dipenuhi barang-barang antik. Dari koper-koper udik, senjata api jadul, koleksi foto tempoe doloe, sampai rumah telepon umum klasik nan unik. Lebih layak kalau lobi itu disebut sebagai museum. Selidik punya selidik, ternyata semua barang-barang nostalgia itu adalah koleksi pribadi si pemilik penginapan yang dari tampang terlihat seperti pria asia tak berseni.



    Taksipun di dapat ketika ketiganya sedang berjalan tak tentu arah keluar dari penginapan. Hebatnya taksi dadakan di Thailand. Sebuah mobil Honda Jazz, masih terlihat mulus luar dalam. Pemiliknya seorang Bapak paruh baya yang hobi memberikan informasi meski tak dibutuhkan. Bahasa Inggrisnya lumayan, tidak sebanding dengan keahlian cara membawa mobilnya. Bapak ini seolah dirasuki setan tour guide. Penjelasannya lengkap dengan alternatif dan solusi terbaik untuk Alex cs. Ketiga sekawan terlihat ragu dan penasaran bercampur aduk yang sering terlihat dari saling pandang heran ketiganya. Sampai Alex sadar tingkah aneh si Bapak yang selalu grogi nyetirnya waktu menjelaskan secara detail suatu hal. Sampai suatu kali Beliau meminggirkan mobilnya demi menjelaskan paket kapal yang sudah termasuk antar jemput ke penginapan. Jelas saja fenomena ini menghabiskan cukup waktu yang berakibat fatal ketinggalan kapal ke Phi phi Island.
Setelah tiga sekawan sepakat untuk tidak lagi meminta info ke si Bapak sampai ke pelabuhan, perjalanan lancar. Tentu saja mereka menggunakan bahasa Ibu pertiwi agar driver kondang itu tidak terusik batinnya. 


    Sesampainya di pelabuhan, beruntungnya mereka kapal masih banyak berbaris. Sungguh indah pemandangan di situ. Bangunan pelabuhannya sama seperti kebanyakan pelabuhan di Indonesia. Tapi silahkan perhatikan lingkungannya, bersih bebas sampah makanan ringan dan sejenis, tidak tercium bau toilet, dan mobil-mobil travel yang parkir semuanya layak pakai dan keluaran terbaru. Toko klontongannya juga berkelas, hot dog, burger, tom yang berbaris rapi. Sejauh mata memandang juga dipenuhi bule rambut pirang yang lalu lalang tak tahu sibuk apa. Para travel banyak membuka stand penjualan tiket. Penjaganya tidak ada yang enak dipandang. Mungkin lagi high season, berdandan dekil pun pasti tetap banyak yang mau datang membeli tiket.
Penjual-penjual ini tidak ramah sama sekali. Susah mendapatkan senyum di wajah mereka, yang semuanya kelihatan mirip. Sampai ada satu bule kumal (backpacker sejati) yang mencak mencak berkata “you are good man!” kepada seorang agen laki-laki tampang cuek. Ternyata si bule kumal itu dicuekin ketika bertanya lebih rinci mengenai paket yang ditawarkan. Sebabnya, si penjual tiket di datengi bule cewe muda, cantik. Kontan si bule kumal kabur sembari komat kamit tidak jelas.
Alex yang sibuk mengamati bule-bule terkeh kekeh melihat pemandangan lucu itu. Kedua temannya tahu sebenarnya Alex juga tadinya sedang memperhatikan bule muda cantik itu. Begitu sampai tadi, urusan pembelian tiket diserahkan kepada salah satu teman travelingnya yang pemberani. Sementara dia sibuk mempelajari keindahan ciptaan Tuhan berupa paras cantik dari berbagai belahan dunia. Sesekali senyum pun tersungging di bibirnya ketika bule cantik di ujung sana membalas tatapannya. 
    
    Di pelabuhan ada pengkelasan berdasarkan kwalitas kapal dan tentu saja harga. Kira-kira ada tiga kelas kapal dan ketiganya berbaris dari kiri ke kanan sepanjang pinggir pantai. Paling kiri itu semacam kelas ekonomi, yang menggunakan kapal kecil dan dihuni sebagian besar backpaker terutama berambut pirang. Di sebelah kanannya bertengger beberapa kapal kelas bisnis. Kapalnya lumayan bagus, bertingkat dan kebanyakan bewarna putih. Kapal-kapal ini layak disebut kapal pesiar. Dari segi harga, dapat dipastikan lebih mahal dari kelas ekonomi tadi. Para penghuninya pun banyak diisi keluarga bule yang benar-benar dalam bentuk keluarga. Kenapa begitu, karena di kapal itu dapat dilihat ada beberapa anak kecil, remaja, orang tua sampai manula. Dan yang terakhir, persis di sebelah kanannya berbaris beberapa kapal yang cukup bagus dari penampilannya. Bertingkat, diberi snack dan kopi saat pertama naik, ruangan di lantai dasar pakai AC serta dipenuhi bule-bule bentuk keluarga dan beberapa ABG berisik. Dari semua penghuni kapal sangat sedikit bisa dilihat orang asia. Dan dari secuil orang asia itu, terdapatlah tiga manusia asia dengan penampilan santai bak turis Eropa. Mereka adalah Lex dan kedua temannya.


Mengapa mereka bisa nangkring di kapal yang tidak seharusnya mereka berada di situ hanya mereka dan si sopir taksi yang tahu. Dengan muka yang sumringah luar biasa, snack dan kopi telah berhasil didapatkan. Betapa bahagia hati mereka. Bisa menikmati sarapan di negeri nan jauh, di dampingi turis-turis rambut pirang, di atas kapal pesiar yang di Negeri mereka saja belum tentu pernah melihatnya.

Matahari mulai berkuasa menghamburkan sinarnya menimpa ketiga wisatawan asal Indonesia itu. Canda tawa menghiasi percakapan ketiganya di atap kapal seolah bule yang sangat merindukan panas matahari. Sesekali terlihat mereka sibuk memasang kuda-kuda mata mencari bule sesuai dengan seleranya masing-masing. Lex, sebagai pria satu-satunya dari ketiga sekawan itu hanya bisa berkomentar sendiri tentang kecantikan bule yang dilihatnya.