Jakarta Celebrating Anniversary (PRJ)


    Jakarta kini berumur 484 tahun. Sebagai ibu kota negara, hari jadinya dirayakan dengan berbagai acara yang spektakuler. Tidak tanggung, warga Jakarta dan sekitar bisa menikmatinya selama satu bulan penuh. Seperti halnya perayaan hari jadi kota-kota di Indonesia, kemeriahan diwarnai dengan berbagai atribut suku setempat. Dalam hal ini, suku Betawi tentunya. Boneka ondel-ondel, kembang api, kerak telor yang merupakan makanan khas Betawi jadi gampang ditemui. Dan harganya bisa mencapai rekor dua puluh ribu rupiah untuk satu loyang. Dahsyat.
Di kota ini juga Lex mengadu nasibnya. Sekarang, dia dan seorang temannya tengah asik memberikan sumbangsihnya meramaikan suasana ulang tahun Jakarta. Perayaan yang digelar di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat dan dikenang dengan nama Pekan Raya Jakarta (PRJ). Kalau mau tahu, PRJ tahun ini merupakan yang ke-44 diselenggarakan sejak Jakarta ada. Dulu namanya Djakarta Fair, dan diadakan di Monas. Karena antusias masyarakat bertambah kian tahun, PRJ dipindahkan ke daerah Kemayoran pada tahun 1992. Di area yang lebih luas, sekitar 44 hektar. Menurut sumber yang diperoleh Lex dari baca sana sini (red:rajin baca), tahun ini PRJ ditongkrongi 2.600 perusahaan dan digandrungi sebanyak 1.300 stand. Wow..

    Perjalanan Lex dan Aga bermula dari sebuah kendaraan umum ber-AC yang menjadi kebanggan salah satu ex Gubernur, diberi nama Trans Jakarta (busway). Merupakan salah satu transportasi darat yang disediakan bagi masyarakat sadar macet dan diberi jalur pribadi di jalanan. Jiwa backpacker tidak pernah lepas dari Lex baik di luar negeri maupun di negaranya sendiri. Kemana mana memanfaatkan fasilitas kendaraan umum yang dipakai beramai ramai. Tentunya dengan tujuan pengiritan. Bersempit sempitan, berdesakan dan bergantungan. Serba salah jadinya. Sampai matanya seperti memandang kunang-kunang yang berterbangan menghampirinya, efek dari keramnya tubuh bergantungan di dalam busway.

Setelah mereka sampai di halte perhentian terdekat, ternyata PRJ belum kelihatan juga. Perjalanan masih harus diteruskan dengan menyewa sebuah kendaraan yang sebenarnya sudah layak dan sepantasnya menjadi koleksi museum Jakarta
. Namanya Bajaj. Kalau dilihat sepintas seperti Tuk tuk yang ada di Thailand tapi versi cebol. Suara mesinnya sangat berisik, guncangannya tidak jauh beda dengan gempa 9 skala richter. Dari kaca spion Lex melihat gumpalan asap yang ditinggalkan Bajaj ini sama dengan asap pembasmi nyamuk yang biasa diadakan Pak RT sekali enam bulan di lingkungan rumahnya. Bergumpal berwarna abu kebiruan dan memberikan efek batuk bagi tiap orang yang dilalui.

    Di pintu depan PRJ jalanan ramai ditunggui mobil-mobil yang kehabisan tempat parkir di dalam. Motor-motor juga tidak ketinggalan berdesakan di bahu jalan. Pemandangan yang sering dijumpai di jalanan Jakarta. Hanya sepeda yang tidak memiliki tempat parkiran, mungkin karena masih jarang yang mengandalkannya.
Orang-orang tampak bersemaangat menuju pintu masuk.
Begitu juga dengan Lex dan Aga. Dengan langkah pasti, mereka segera menuju pembelian tiket masuk.
Harga tiket masuk sebesar Rp.25.000 per kepala. Silahkan masuk gratis bagi yang tidak membawa kepalanya. Anak-anak yang tingginya tidak sampai batas garis yang ditentukan panitia bisa ikut masuk gratis beserta mereka yang lupa bawa kepala. Ada juga pintu khusus disediakan untuk tamu undangan, anggota TNI dan manula. Tidak ditulis fasilitas apa yang disediakan bagi mereka. Mungkin saja kesempatan jalan di atas Red carpet dan foto season.

Lex dan Aga berjalan melalui pintu masuk normal dengan menunjukkan tiket dan menyerahkan semacam kartu magnet agar palang pintuk bisa bergerak. Dan mereka pun masuk ke arena PRJ yang memang sangat ramai.
Sejauh mata memandang, pengunjung yang berserakan kelihatan lengkap dari segala usia. Bayi digendong mamanya, balita di dalam kereta dorongnya, ABG digandeng pacarnya, suami ditarik istrinya dan nenek-nenek tersesat bingung.

Kanan-kiri, depan-belakang dipenuhi stand barang dagangan yang bervariasi, ada helm, cemilan, susu balita, batik, rokok dan kebutuhan sehari-hari. Lex dan Aga berjalan menyusuri stand-stand sambil sesekali meraba kantong, takut kecopetan.

Setelah melewati sekitar sepuluh stand, jalan terpisah menjadi dua arah, kiri dan kanan. Mereka memilih jalan dari jalur kiri. Karena di jalur ini banyak SPG cantik berkeliaran menjajahkan dagangannya dengan kostum super seksi. Pemandangan yang tidak mungkin ditolak oleh dua makhluk pejantan tulen berkeliaran tanpa pendamping masing-masing.

    Suasana cukup meriah. Lampu warna-warni ramai bergantungan menghiasi setiap stand. Spanduk dan umbul-umbul ditata rapi di tepi jalan. Sayang, tidak ada yang menghiraukannya. Pengunjung lebih menikmati tulisan sale (diskon) dengan jumlah tertinggi daripada capek memperhatikan umbul-umbul.

Konon, PRJ ini diadakan dengan tujuan memajukan produk dalam negeri. Kenyataannya di sini pengunjung berlomba-lomba menyerbu produk impor. Contohnya, di stand pakaian yang bermerek surfing luar negeri lebih membludak pengunjungnya dibanding stand distro-distro asal Bandung.

Tangan mereka sibuk menggali tumpukan pakaian super sale yang diletakkan di dalam keranjang-keranjang besar. Namun mereka tidak sendirian. Puluhan pengunjung tidak kalah sangar berdesakan berebutan di tiap keranjang.
Di setiap keranjang, di sudut ruangan, di gantungan, berdiri penjaga yang matanya mondar-mandir mencari pengunjung yang mencurigakan. Sialnya, salah satu dari mereka berteriak dengan lantang: “hati-hati, perhatikan barang bawaan anda!” sedetik setelah Lex memasuki stand itu. “Sialan, emang tampangku kriminal apa!” batinnya berontak. Kalau diperhatikan, seharusnya Lex yang harus wapada. Tampang penjaga itu gondrong, acak-acakan, hitam dan hidungnya kembang kempis bertanda dia masih hidup.

    Setelah menemukan beberapa potong pakaian dengan harga fantastis, sepuluh ribu rupiah, Lex dan Aga memutuskan mengakhiri pertempuran ini. Mereka keluar stand dan melanjutkan mengunjungi stand lainnya.
Di ujung jalan mereka menemukan beberapa permainan anak kecil seperti gondola, kereta gantung, dan arum jeram mini. Antusias anak-anak tidak kalah dengan orang dewasa. Disaat orangtua mereka berpikir stand mana lagi yang akan diborong, mereka juga berpikir wahana permainan apa lagi yang belum ditaklukkan. Semua memiliki target masing-masing. Semua mencari kebahagiaannya masing-masing. Sementara si nenek-nenek tersesat masih bingung mondar-mandir.

    Memasuki lebih dalam lagi, Lex dan Aga mulai melihat pintu-pintu hall. Ada 5 hall membentuk setengah lingkaran. Hall A berisi barang-barang furniture, carpet, sofa, lukisan, lampu dan sejenisnya. Hall B banyak dikuasai penjual-penjual kosmetik, garmen, handycraft, Pemda dan BUMN. Pemda dan BUMN mempromosikan program kerjanya serta menjual barang koperasi. Hall C masih didominasi sebagian besar Pemda dan BUMN serta barang-barang komplotannya komputer. Hall D, yang merupakan tempat favorit mereka setelah SPG berkostum super mini, diisi stand perlengkapan yang berhubungan dengan hobi dan elektronik. Sayang hobi yang ditemukan cuma terbatas. Hanya ada sepeda, pecinta alam, musik dan sedikit gadget. Terakhir Hall E dihuni stand barang-barang elektronik seperti TV, jam dan askesoris.

    Semua hall sudah dikunjungi, langit mulai gelap. Bintang-bintang bertaburan di langit malam yang cerah. Jumlahnya banyak sekali. Sama seperti pengunjung yang ternyata jumlahnya semakin banyak. Jalanan di luar hall tambah berdesakan seperti lautan manusia. Belum lagi kendaraan wara wiri yang masih semangat mengantar pengunjung-pengunjung lansia berkeliling. Selidik punya selidik, ternyata wara wiri ini disediakan sebanyak empat unit. Setiap unit ditarik semacam mobil pick up dan di belakangnya ditempel tiga gerbong tempat duduk pengunjung. Lex dan Aga sama sekali tidak tertark menaiki kendaraan aneh itu. Justru dimata Lex kendaraan ini sangat merepotkan. Sedang asik jingkrak-jingkrak nonton konser JRocks, wara wiri lewat dengan cueknya membelah gerombolan penonton. Suasana Rock N Roll buyar seketika.

    Bukan hanya pertunjukan musik Rock, pengunjung juga ternyata dimanjakan oleh musik RnB. Lex dan Aga memaksakan diri nongkrong di depan, tepatnya di depan bagian bawah. Karena pertunjukannya berada di atap stand sebuah produk pakaian kaula muda. Atraksi yang dipertontonkan adalah modern dance yang diiringi house music dari seorang DJ. Mirip suasana dalam club malam. Penarinya adalah mereka wanita-wanita muda cantik berpakaian ketat alias seksi dengan peluh yang bertetesan dari dagunya. Hot!
Meliuk-liukkan tubuhnya seirama dengan dentuman bass yang keluar dari sound bertenaga super. Pengunjung sampai tak berkedip. Bahkan ada yang tidak sadar mulutnya sampai menganga mirip buaya berjemur. Pria dan wanita sama-sama takjub. Tua-muda, besar-kecil semuanya terhipnotis dengan goyangan nan erotis di atas sana. Malam ini indah..

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*