Gift At the First Step 3


Tadinya sudah dibulatkan niat untuk coba backpacer sendiri dan di negara yang belum pernah dikunjunginya. Tapi akhirnya mendapat partner yang nanti akan bergabung di singapore. Semua jadi lebih enteng dan sepele pun menyusupi benak Lex.
Lex telah mempersiapkan segala sesuatunya di dalam backpack barunya. Tidak banyak barang yang dibawa, sehingga backpacknya tidak terlalu besar. Itu juga bukan tidak sengaja, tetapi justru mensiasati agar tas tidak ditolak dibawa ke cabin pesawat. Penggaris bolak-balik dibentangkan untuk mengukur tas tidak lebih dari ketentuan pihak maskapai Jetstar.
Lex berangkat numpang bus Damri tidak gratis, bayar 25 ribu Rupiah. Karena dia bukan pegawai Damri.
Sampai di bandara Soeta, counter Jetstar belum buka. Lex terlalu cepat, bukan terlalu semangat. Prinsipnya setiap berpergian adalah lebih baik menunggu daripada ditinggal. Sekarang dia terlihat sedang makan di salah satu makan cepat saji. Sambil membunuh waktu, mengisi perut dan berharap bertemu jodoh bule.
Selesai makan, Lex segera menuju counter check in Jetstar yang ternyata telah banyak antrian. Tidak lupa berpamitan dengan perempuan manis yang berkenalan ketika makan nasi ayam krispy. Si perempuan manis pun membalas senyum Lex dengan senyuman penggugah iman. Lex masuk ke antrian yang tidak terlalu panjang. Tulisannya ‘web check in counter’. Ternyata web check in ada untungnya juga, antriannya tidak sepanjang counter check in biasa. Kebanyakan bule berambut pirang yang ikut antrian ini.
Tasnya ditimbang untuk memastikan berat bisa masuk cabin dan keputusan akhirnya adalah boleh. Lex sedikit kecewa. Memang dia berharap tasnya lolos syarat masuk cabin, tapi tidak semudah itu. Batinnya bertanya,”bukannya diukur-ukur dulu panjang, lebar dan tingginya?”
Setelah mendapat boarding pas dengan membayar si petugas check in sebesar 150 ribu Rupiah (memang tarifnya segitu), Lex segera berjalan menuju gate D3. Dijalan dia dihadang seorang bule pirang, tatonya banyak dan rata-rata gambar tengkorak, tinggi, tindiknya juga banyak, nafas bau alkohol dan berkata:”oh no..my money not enough to pay airport tax”
Lex menjawab:”emang gw pikirin”
Terdiam sejenak, Lex merenungi kalimat spontannya. Dia membatin:”oh ia,dia kan bule,mana ngerti bahasa gaul.haha..”
Si bule pun curco alias curhat colongan kepada Lex masalah kurangnya 23 ribu untuk bayar airport tax. Dia menunjukan sisa uangnya dan gile, ada uang seratus koinnya. “nih bule kere sepertinya” Lex menyimpulkan. Dengan wajah tidak enak dan nafas yang juga berbau tidak enak si bule berterimakasih dan menjabat tangan Lex karena sudah dikucurkan dana segar menggenapi biaya airport taxnya. Lex menjawab:”it’s ok,noproblema”
Ngerti gak ya si bule.
Setelah mengisi kartu keberangkatan-kedatangan Lex segera menuju imigrasi for Indonesian dan gate D3 tempat menunggu pesawat jetstar tujuan Singapore. Sepanjang jalan menuju gate, Lex didera beberapa godaan antara lain: pengen beli parfum, pengen jajan coklat, pengen nonton Arsenal yang lagi tanding sama klub lupa namanya dan pengen cuci mata. Tapi semua dapat dikalahkan dengan ngantuk yang menggerogoti mata.
Tiba-tiba matanya terhenti pada layar jadwal keberangkatan. Ada yang tidak beres. Bukan pada layarnya, tapi pada jadwal pesawat vf 206. Pesawat yang akan ditumpanginya. Disitu tertulis gate D4. Lex buru-buru membuka tas kecilnya dan mencek boardingpas-nya. Di boardingpas tulisannya D3 bukan D4. Boardingpasnya dibolak-balik untuk mengecek keabsahannya. “biasa aja, tidak ada bekas tipex atau yang mencurigakan” batinnya. Dengan sigap dan ramah dia mendatangi petugas yang sibuk celingak-celinguk seperti kehilangan anak ayam. Si petugas meyakinkan kalau yang benar adalah yang di monitor jadwal. “kok bisa ya ngeprint aja masih salah, rusak nih reputasi bandara skala internasional” gerutunya. Sebelum pamit dan berterimakasih kepada si petugas, Lex bertanya: “lagi nyari apa ya mas? Mungkin bisa saya bantu..”
Si petugas ternyata sedang mencari penumpang laki-laki jompo yang sudah melakukan check in tapi tidak terlihat batang hidungnya ada dimana. Selamat berjuang mas petugas.
Sebelum masuk pintu gate D4, ada sofa panjang dan Lex berbaring di disitu. Sebelum memejamkan mata, hp berbunyi dan ada tawaran wifi gratis. Ngantuk-pun hilang. Buka facebook dan mulai cerewet di twitter.
Sejam sebelum berangkat, Lex masuk ke ruang tunggu gate D4. Oleh petugas diberitahu pesawat delay setengah jam. Ternyata pesawat luar juga ada acara delay-nya. Apa karena tertular dengan beberapa pesawat lokal? Hanya mereka yang tahu. Lex kembali ke sofa panjang di depan pintu gate D4 dan kembali tiduran. Kali ini dia sudah membulatkan tekad untuk tidak menghiraukan segala bunyi-bunyian hp, eskalator, orang lewat, petugas pengumuman dan pesawat. Hanya bunyi suara malaikat yang menyertainya tertidur sekitar 30 menit.
Di dalam pesawat, Lex duduk bersebelahan dengan dua orang perempuan yang juga traveling ke Singapore. Cara pulang mereka sama dengan Lex, melalui batam. Mereka berkenalan dan mulai berbincang-bincang.
Sesampainya di Changi Singapore airport, Lex keluar dan tetap tersenyum ramah menyapa pramugari yang bertengger di pintu pesawat dan petugas security yang berdiri di pintu masuk bandara. Lex mulai clingak-clinguk mencari posisi yang enak untuk tidur menunggu besok pagi. Karena kereta menuju hostel baru ada jam setengah enam pagi. Terlihat beberapa bule pirang sudah tertidur di sofa tunggu. Lex mencobanya. “tidak nyaman seperti yang dibaca di internet” batinnya. Malu bertanya sesat di jalan. Lex kembali ke pintu masuk tadi dan bertanya kepada petugas security dimana bisa beristirahat yang nyaman dan tempat colokan listrik. Dengan ramah si petugas security menjelaskan. Boleh juga bahasa Inggrisnya. Bahkan dia menawarkan mengantarkan Lex ketempat-tempat yang dimaksud.
Si petugas security mengajak Lex mutar-mutar bandara seperti tour guide. Namanya Hasan, orang melayu. Mereka akhirnya berbicara menggunakan bahasa Inggris dan melayu. Betul betul betul..
Berkat si petugas security yang ramah, Lex jadi banyak tahu isi bandara Changi. Tempat makan yang enak, beli barang-barang, tempat nonton tv satelit, internet gratis, kehebatan terminal 2 dari semua terminal di bandara ini, sky train menuju terminal-terminal dalam bandara, menuju MRT (kereta) dan tempat strategis yang bisa colok hp ke listrik sambil tiduran empuk. Tuhan memang baik.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

3 thoughts on “Gift At the First Step