English for Backpacker


    Kemampuan menggunakan bahasa asing menjadi nilai plus bagi seseorang di era globalisasi sekarang ini. Menguasai lebih dari satu bahasa ibarat memiliki tiket emas membuka diri mengenal isi dunia lebih dekat. Terutama bagi mereka yang suka berpetualang menjelajahi negeri-negeri di luar sana.


    Lex, seorang dari keturunan Indonesia asli tanpa ada campuran darah asing sedikitpun dari silsilah keluarganya, hanya bisa menggunakan satu bahasa asing, Inggris. Perbendaharaan kata Inggris yang ada di memorinya tidak banyak. Kemampuannya merangkai kata demi kata menjadi satu kalimat yang susah dimengerti, tidak jelas posisi diterangkan dan menerangkan. Penempatan ‘to be‘ yang tidak wajar, bahkan sering ditemui beberapa ‘to be‘ yang ganjil dan berlebihan dalam satu kalimat.

    Bila mendapat amanat untuk merangkai sebuah cerita menggunakan bahasa Inggris, sebisa mungkin Lex akan menolaknya. Pernah suatu ketika, Lex melamar program beasiswa master ke Australia. Salah satu persyaratan yang diminta, membuat karangan singkat mengenai motivasi melamar beasiswa tersebut, tentu saja dengan bahasa Inggris. Tidak ada alasan untuk menolak atau bernegosiasi. Lex lemah tak berdaya. Dia mulai merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat hingga

seminggu tak kunjung selesai.  Sampai akhirnya batas akhir penyerahan persyaratan, Lex masih kurang 50 kata lagi. Sungguh memalukan.

    Banyak usaha yang dilakukannya untuk dapat menguasai bahasa standar Internasional ini. Sejak kecil Lex sudah mengikuti khursus. Dimana masa-masa harusnya Lex menikmati waktu bermain, dia malah sibuk belajar rumus past tense di tempat khursusnya. Pernah juga dia mengikuti khursus bahasa Inggris terbaik se Indonesia ketika usia remaja. Tetap saja dia merasa skill yang dimilikinya masih kurang. Sempat terpikir akan mengencani cewek bule yang tinggal di sebrang kompleksnya demi menaklukkan tak lain dan tak bukan, bahasa Inggris.

    Banyak asal muasal susahnya dia belajar bahasa Inggris ditelusuri sampai memunculkan alasan sendiri yang tidak masuk akal. Seperti, faktor bakat. Dia merasa tidak memiliki bakat menguasai bahasa Inggris. Padahal di India, sebodoh bodohnya orang atau serendah rendahnya IQ dan bakatnya, tetap dapat dengan mudah menguasai English. Atau mungkin karena tidak memiliki keturunan bule, atau tidak pernah terpilih program tukar pelajar ke luar negeri, atau mungkin karena tampangnya tidak mirip bule sama sekali.

    Sekarang, di umur yang tidak remaja lagi, kemampuan bahasa Inggrisnya tidak berubah. Masih pas pasan. Meski teman-temannya dari berbagai negara mulai bertambah. Teman satu tim Baseball nya berkebangsaan Australia. Sering jalan kaki pulang bersama sehabis latihan. Berbincang dan bercanda menggunakan bahasa Inggris, tapi tetap saja Lex masih dilengkapi bantuan andalannya, bahasa tubuh.
Berkirim kirim email dan chating dengan temannya di Kamboja. Lex terpaksa harus menggunakan bantuan lain, bukan seperti biasanya bahasa tubuh. Kenapa? Tentu karena tidak mungkin dapat dilihat di email. Bantuan itu berupa inovasi teknologi yang hebat. Kamus online. Mengetik kata bahasa Indonesia, diterjemahkan langsung ke bahasa Inggris dalam hitungan detik. Kembali disusun semaunya menjadi kalimat Inggris yang ternyata hampir Inggris. Berantakan.

    Pengalamannya travelling ke luar negeri baru sebatas wilayah Asia. Dimana kemampuan berbahasa Inggris sebagian besar penduduknya juga separah Lex. Bedanya, mereka jarang menggunakan bahasa tubuh. Lucu. Penduduk lokal itu merasa English nya sudah baik dan benar, mungkin baik jika lawan bicara adalah orang Amerika atau Inggris. Bule-bule dapat memaklumi dan dapat memahami maksud pembicaraannya. Sedngkan Lex, semakin bingung dan semakin ragu akan kemampuannya sendiri. Lex dan lawan bicaranya terlihat komat kamit gak nyambung dan otaknya akan berfikir keras apa maunya si penduduk lokal ini. Salah kaprah, bisa merugikan diri sendiri. Seperti kalau menjelaskan petunjuk jalan, menjelaskan suatu obyek wisata. Salah-salah bisa nyasar.

    Hebatnya penduduk lokal di daerah wisata negara-negara Asia banyak yang belajar bahasa Inggris di usia yang tidak muda (tua). Pemerintah setempat turut membantu usaha mereka. Ketika waktu menikmati Thai massage di hatyai, lex mendapat informasi dari sang tukang pijat kalau mereka diberi khursus gratis. Pemerintah setempat memberikan pelatihan singkat khursus bahasa Inggris, walau hanya sebatas yang sering diucapkan saja. seperti bagaimana menunjukkan arah jalan, cara menawarkan harga barang dagangan, bagaimana menjelaskan obyek wisata, menjelaskan sejarah suatu tempat dan sejenisnya. Kenyataannya, kemampuan mereka malah meningkat seiring seringnya berbicara dengan wisatawan. Dapat diamati dari lancarnya menerangkan arah jalan dan sangat sulit menjelaskan keadaan keluarganya sendiri.

    Meski kemampuan bahasa Inggris Lex tidak sehebat pemandu wisata atau backpacker pada umumnya, dia tidak pernah minder atau takut berpetualang. Banyak negara di dunia ini yang sudah direncanakannya akan dikunjungi. Banyak juga teman yang didapatnya selama melakukan travelling. Di Krabi Island, Lex mendapat seorang teman wanita muda, cantik, sexy, berkarir, jomblo dan tinggal di Inggris. Salah satu teman yang meninggalkan kesan tersendiri bagi petualangannya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*