End of Rat Adventure


    Tikus, makhluk paling bertentangan secara pribadi dengan Lex. Kalo ketemu bawaannya emosi, terus pengen ngajakin ribut. Jangan harap tikus bisa berlenggak-lenggok santai bila berpapasan dengan Lex. Segala macam benda yang bisa dijadikan senjata akan dilayangkan ke tikus tak tau diri itu. Tikus dan lex ibarat kesalahan formasi di rantai makanan. Seperti Tom dan Jery, seperti ulat dan petani, seperti koruptor dan pegawai baru yang idealis, seperti jerawat dan model kecantikan, perang yang tidak imbang sebenarnya..

    Hewan pengerat ini suka berpetualang ke rumah, selokan, kantor sampai ke restoran-restoran ternama. Menjelajahi lorong gelap yang bau dan memakan sampah-sampah busuk yang bergeletakan. Di petualangannya itu mereka mendapatkan pujaan hati dan memutuskan untuk kawin dadakan. Setelah memutuskan membentuk suatu rumah tangga, mereka akan menghuni satu atap gedung untuk melahirkan anak-anaknya. Di situlah si penghuni gedung akan sangat dirugikan dengan suara crit crit yang sangat mengganggu, bekas gigitan di pakaian, makanan di dapur yang berhamburan yang semuanya dilakukan oleh si tikus.
    
    Pernah beberapa kali si tikus menguji nyali menhuni rumah Lex. Numpang diam-diam di atap rumahnya. Setelah kerugian-kerugian yang tidak bisa ditolerir lagi, akhirnya Lex memutuskan untuk mengumandangkan perang. Lex memburu sarang mereka. Keprimanusiaannya masih melarangnya untuk tidak menggunakan perangkap tikus apalagi racun tikus yang disamarkan di kepala ikan yang biasa jadi umpan.
Lex mempelajari jam terbang tikus di rumahnya. Ternyata mahluk usang itu beroperasi di malam hari sampai subuh hari. Gila, jam kerjanya lumayan lama juga. Suatu malam Lex keluar dan memergoki

beberapa tikus lagi berpesta menghabiskan ikan-ikan di meja. Dengan sigap bak prajurit Romawi, Lex meraih payung di dekatnya dan langsung mengarahkannya ke si tikus. Satu tikus KO seketika.

Yang satunya (mungkin kekasihnya atau selingkuhannya) melompat turun dari meja. Lex mengejarnya dari belakang. Si tikus masuk meyusup ke bawah sofa. “Kupret! pake sembunyi segala. Keluarlah, kita bertarung secara jantan!” seru Lex. “Cit cit..” si tikus membalas. Geram karena hanya dijawab begitu, Lex mengangkat sofa satu per satu. Si tikus dengan kecepatan seperti kilat ikut berpindah ke sofa disampingnya.

Sampai di penghujung sofa, Lex beristirahat sejenak menghapus peluh yang membasahi keningnya. Ingin rasanya dia bisa menikmati minuman kaleng dingin saat itu juga, apa daya tidak ada bekal disiapkan di medan perangnya itu. Lex membenarkan posisi celana tidurnya yang tadi agak sedikit kedodoran. Disisingkannya lengan bajunya, digenggamnya senjata payung erat-erat. Dirinya siap melanjutkan pertempuran.
Sementara di bawah sana, si tikus mulai panik dan kehilangan akal atau karena memang dia tak punya akal. Cit citnya mulai ramai dan terdengar putus asa.
Lex perlahan mengangkat sofa terakhir, matanya tajam fokus mengamati sekitar sofa. Kepalanya ditundukkan untuk mengecek posisi si tikus kurap. Zepp! tiba-tiba si tikus keluar dan Lex langsung mengarahkan ujung payung ke kepala musuhnya. Dam*! Meleset. Lex terus mencoba hingga jurus yang ke delapan akhirnya si tikus dapat ditaklukkan.
    Malam masih gelap, suasana di luar sunyi mencekam, jam menunjukkan pukul 2 pagi. Lex masih berada diantara lawan-lawannya yang telah ditaklukkan. Setelah pertempuran panjang itu Lex sangat lelah tetapi tidak mengantuk. Dibereskannya dua musuhnya seperti tentara Romawi membereskan prajurit pemberontak yang kalah perang. Ada perasaan lega telah mengurangi pemberontak yang menyelinap di atap rumahnya.
Lex berjalan gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan sisa-sia peperangan di tangannya. Alangkah terkejut dia meihat penampakan yang ada di bak kamar mandi. Lex tersentak kaget. Seekor tikus tengah berenang-renang di dalam bak dengan air yang hanya setengah. Luar biasa congkak si tikus yang satu ini. Sebagai pendatang gelap, si tikus tidak berhak sama sekali untuk menjadikan bak mandi sebagai kolam renang. Muka Lex memerah, tangannya dikepal kuat, rahangnya mengeras, matanya tajam menatap tingkah si tikus kurap yang masih asik berenang.
Dibukanya keran bak untuk mengurangi air hingga kurang dari seperempat isinya. Entah strategi apa lagi yang hendak dijalankannya. Si tikus tersadar akan hadirnya Lex di situ dan mulai merasa terusik. Digapainya pinggiran bak untuk naik ke permukaan. Beberapa kali gagal naik dan tergelincir jatuh lagi ke dalam air. Si tikus sadar tidak mungkin dia bisa mencapai atas bak untuk keluar kolam renangnya. Suara cit citt.. kembali terdengar. 
Lex kembali dengan pembersih lantai di tangannya. Pembersih lantai yang diperuntukkan untuk menghilangkan karat dan wajib dijauhkan dari jangkauan anak-anak. Dituangkannya dengan pasti ke dalam bak untuk membersihkan dari penyakit-penyakit yang ditinggalkan si tikus. Karena tidak sudi bersentuhan dengan musuh perangnya, Lex membiarkan si tikus tetap menikmati kolam renangnya dengan air yang telah berubah menjadi warna biru, berbau dan berasap.Hii..
    Keesokan harinya, di kantor, Lex menemukan perangkap tikus yang dipasang temannya berhasil memenjarakan satu tikus kurap. Tikus sombong itu mengeluarkan nada cit citt-nya seperti menyanyikan suatu lagu R n B. Pasrah pada situasi dan kenyataan yang akan menimpanya. Banyak kerugian dan kejengkelan yang dibuat si tikus ini. Arsip kantor yang bersobekan, jejak kaki kotor dan bau di meja-meja, tempat sampah yang diacak-acak, bangkai ikan berserakan di lantai sampai sepatu teman yang bolong digigitin.
Teman-teman kantor Lex berdiskusi sebentar memutuskan hukuman apa yang terkena untuk kejahatan si tikus. Setelah diputuskan, si tikus meratapi hukumannya di balik rajutan jeruji besi dengan masih menunjukkan tatapan sombongnya.
    Dua hari setelah penangkapan, di kamar mandi kantor Lex mengeluarkan bau busuk. Bau yang lebih parah dari bau kuburan. Tajam, menyengat masuk paksa ke hidung sampai menimbulkan efek pusing seketika. Menjijikkan. Ada apa gerangan? Mungkinkah ipar si tikus balas dendam? “Tidak mungkin!” jawab Lex. Tiga hari bau itu menguasai oksigen di kamar mandi. Oksigen disandera dan digantikan bau busuk yang semakin pekat dan kuat. Tidak ada yang nekat untuk buang hajat di kamar mandi itu lagi. Untuk manusia normal, tidak tahan berlama-lama berada di situ. Untuk buang air kecil aja, penghuni kantor harus cepat-cepat memaksakannya agar segera keluar. Sampai yang kaum hawa sesekali tidak sempat membenarkan posisi roknya. Dam*!
Hari keempat, salah satu teman kantor Lex menemukan sosok aneh yang nyembul sedikit di atap kamar mandi, tepatnya di atas bak. Terlihat seperti akar pohon kecil, berwarna hitam tapi kok berbulu. Diamati dengan benar ternyata bangkai tikus! Ekornya nyempil keluar. Sudah mulai kering tapi masih mengeluarkan lendir keputihan yang menjijikkan. Huoeeks..

Setelah dikeluarkan, ternyata ada dua tikus mati yang lengket di kakinya. Aneh. Sungguh aneh. Bagaimana tikus-tikus itu bisa berada di situ. Oke, pertanyaan itu mungkin masih bisa dijawab mengingat tingkah tikus yang super lincah. Tapi kenapa bisa mati dua-duaan? Kenapa memutuskan mati di situ? sungguh tidak romantis. Apa alasan si tikus mengakhiri hidup sedemikian rupa? Apakah mereka saling kenal, atau sudah melakukan hubungan? Apakah keluarganya setuju? Apakah mereka sudah menemukan arti dari petualangan mereka? Huft..

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*