Uncategorized


    Keesokan paginya, matahari pagi menerobos masuk melalui fentilasi jendela membangunkan dua sahabat yang tertidur pulas sisa capek di bus omprengan. Angin pagi berhembus masuk diikuti embun danau yang dingin. Betapa cerah langit pagi itu. Secerah hati mereka yang siap berpetualang independen menyusuri Danau Toba dan Pulau Samosir. Di benak Lex, lain kali ke tempat ini, dia akan menyaksikan langsung sunrise di pucuk perbukitan sebelah timur sana.
Baru terlihat jelas keindahan tepi pantai danau di kelilingi pepohonan di perbukitan. Beberapa hotel mewah berdiri di tebing-tebing bukit untuk mendapatkan spot yang paling indah menikmati keindahan danau. Beberapa wisatan terlihat joging di pinggiran danau, sedangkan warga setempat telah mulai sibuk dengan aktifitas masing-masing. Beberapa pemuda terlihat sedang sibuk mengepel lantai kapal, ibu-ibu menjajahkan dagangannya, petugas hotel menyiapkan pesanan free breakfast pengunjung, anak kecil belajar berjalan ditemani sang bapak, anjing-anjing mengais tumpukan sampah, kawanan ayam berlari kesana kemari. Sedangkan Lex dan temannya masih menikmati pemandangan di balkon.
    Setelah mengemasi diri dan barang bawaan, tidak lupa mereka sedikit merapikan kamar sebagai ungkapan terimakasih atas pelayanan yang diberikan hotel. Kemudian menikmati jatah free breakfast dan langsung bergegas menuju pelabuhan kecil, tempat pemberangkatan kapal penyebrangan ke Pulau Samosir. Pelabuhannya tidak terlihat seperti pelabuhan. Untuk mendapatkan posisinya saja mereka rajin bertanya ke siapa aja yang ditemui. Tidak ada tanda khusus, apalagi berukuran besar yang menunjukkan lokasi pelabuhan. Sungguh malang obyek wisata potensial ini. Identitasnya banyak terabaikan.

    Kapal yang mereka naiki terdiri dari dua lantai. Tempat favorit tentu saja lantai atas yang dapat memandang puas keindahan alamnya. Penumpang saat itu hampir semuanya rombongan ABG yang mungkin sedang tour dari sekolahnya. Dipikiran Lex, suasana bakal berisik seperti wisatawan ABG pada umumnya, dan ternyata benar. Yang perempuan asik cekakak cekikik layaknya burung dara memamerkan suaranya untuk menarik perhatian sang jantan. Sedangkan yang laki-laki beragam. Ada yang sok cool, ada yang terpesona dengan alam sekitar, dan tentu saja, ada yang pacaran. Diam-diam Lex iseng mengambil gambar mereka yang ternyata sepasang tangan tengah bergenggaman di bawah sana. Seperti Leonardo dan Kate di Titanic.
    Lex menceritakan kepada temannya itu, kalau ABG bule yang pernah juga sekapal dengannya dulu di Thailand sangat berisik. Berbeda dengan ABG ini. Remaja-remaja bule di sana sangat tidak sopan. Mereka tidak peduli dengan terusiknya wisatawan lain karena cekikikan mereka. Atau dengan busana mereka yang memamerkan semua lekukan tubuh yang baru terbentuk di usia segitu. Dunia serasa milik mereka, sedangkan kita seperti ngontrak di dunia itu. Jangankan pegangan tangan, french kiss saja dilakukan dengan cuek di depan orang tuanya. Oww.. Dikapal ini, yang mereka tumpangi sekarang, kedua sejoli tadi malu-malu hanya untuk berpegangan tangan. Sesekali di lepas bila dirasa kurang aman atau ada yang pelototi.
    Sepanjang perjalanan kapal, penumpang dihibur oleh dua orang anak kecil yang bernyanyi dengan gaya teriak-teriak. Urat-urat di leher mereka sampai mengeras, biru, seperti mau pecah. Mukanya juga memerah kehitaman senada dengan celana sekolah merah yang dikenakan. Betapa berat usahanya menghasilkan suara merdu. Lagu-lagu yang didendangkan semuanya berbahasa lokal, Batak. Nadanya indah, tapi liriknya tidak jelas. Mereka malah terlihat seperti anak sedang buang air besar yang sudah tidak keluar selama seminggu. Sadis.
    Tidak lama setelah kapal menjorok te tengah danau, sayup-sayup lex mendengar suara anak kecil berteriak. Semakin lama semakin jelas dan tidak hanya satu suara. Semakin jelas suara itu berkata “lempar uang, lempar uang!”. Lex yang duduk di tepian kapal mencari sumber teriakan itu. Batinnya berkata, apa mungkin ada sekelompok anak sedang latihan berenang terus tenggelam dibawa arus kapal.. Matanya mencari-cari, telingannya bergoyang-goyang. Dan akhirnya berfokus pada sekelompok anak kecil yang berenang di bawah kapal.
    Kulit mereka hitam, badannya kurus, masih kecil-kecil, hanya mengenakan celana dalam, bahkan ada yang bugil. Sambil berenang-renang mereka meminta Lex melemparkan uangnya ke mana saja dan mereka akan mengejarnya dengan berenang. Tentunya uang itu tidak akan dikembalikan, menjadi sepenuhnya hak mereka. Kreatif juga usaha anak-anak ingusan ini. Karena penasaran, Lex melemparkan koin lima ratus rupiahnya. Dengan cepat sambil berebutan, bocah-bocah itu telah berhasil berenang kemudian menyelam mengejar koin lima ratus rupiah yang terkena gaya grafitasi tenggelam ke dalam air. Lex terpesona. Dia dan temannya melemparkan uang secara bersamaan ke tempat yang berjauhan. Sang bocah terdiam sejenak, seperti patung pancoran. Mereka bingung mau mengejar yang mana. Sejurus kemudian, terpisah secara naluriah berenang ke arah kedua koin lima ratus rupiah.
Penumpang kapal yang lain tertarik dan ikut bergabung melemparkan koin. Sang bocah, dengan mulut dipenuhi koin terpacu adrenalinnya melihat ramainya penumpang yang akan melemparkan koin. Seperti ikan mas koki, matanya membesar dan mulutnya kembang kempis monyong. Salah seorang anak berkata,”lempar uang sepuluh ribu bang!”. Nah, sifat asli manusianya keluar juga. 

    Penumpang mulai menghujani mereka uang kertas yang nominalnya jauh lebih besar dari koin tadi. Tapi pertunjukan malah tidak semeriah tadi, karena daya lempar uang kertas sangat dipengaruhi angin yang lewat. Kebetulan angin tidak kencang, jadi uang kertas hanya terjatuh di dekat kapal. Tidak ada aksi seperti lumba-lumba yang berenang akrobatik mengejar uang yang dilemparkan. Ditambah komplotan mereka mulai berdatangan sebagai bala bantuan. Menggunakan sampan kecil menampung uang yang telah dikumpulkan dan ikut membantu mengejar uang yang yang agak jauh. Tidak kedinginan, tidak basah, tidak terlalu capek, simpel dan curang. Lex kembali terpesona.


    Untuk memperluas wawasan traveling, Lex kali ini melakukan perjalanan masih di dalam negeri sendiri, Indonesia. Tepatnya ke Sumatera utara. Dengan harapan dapat menikmati panorama alam, budaya, lagenda dan tentunya dengan harga yang minim. Mengingat kembali pengetahuan yang diperolehnya di pelajaran Geografi sewaktu sekolah, Sumatera Utara memiliki kekayaan alam yang eksotis dengan perbukitan hijau, udara yang sejuk serta danau yang terkenal ke seantero dunia. Danau Toba.
    Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Bandara Polonia, Medan. Sesampainya di bandara Lex langsung mencari kendaraan menuju Danau Toba. Susasana di Polonia mulai terasa berbeda dibanding Soekarno Hatta. Gaya bahasa Melayu yang mendayu-dayu diwarnai gaya bahasa Batak yang tegas dan lugas. Kata-kata yang diucapkan seolah bernyanyi dan bereriak sekaligus. Lex seperti mendengar bunyi paduan suara amatir yang jarang latihan. Untuk orang yang belum biasa pastilah akan terkejut mendengarkan mereka berbicara. Seperti berkelahi.
    Di Medan ini, masyarakat dominan yang dapat di lihat di sepanjang jalan adalah Melayu, Batak, India dan China. Perpaduan yang cukup unik, mengingat karakter yang sangat berbeda satu sama lain. Sekali lagi terbukti, perbedaan adalah pemersatu. Berbeda dari penampilan, bentuk muka dan cara berpakaian tanpa disadari membentuk fenomena yang berwarna, lucu dan mengharukan sekaligus.
    Sekitar tiga jam perjalanan dari Medan, Lex singgah di Kota yang dingin, sejuk dan sepertinya sepi dibandingkan Kota Medan. Kota itu bernama Pematang Siantar. Sungguh menarik kota yang terlihat setengah matang ini.
Sepanjang jalan bangunan rumah bervariasi. Satu rumah bangunan beton, berpagar besi warna merah, dihiasi bunga-bunga cantik di pekarangan depannya dan seirama dengan pagar besi yang seperti tralis penjara. Persis disebelahnya berbaris beberapa rumah dengan atap seng aluminium hitam karatan, ditopang dengan kayu-kayu tua keropos yang menjadi bahan utama rumah itu. Tidak berpagar dan tidak juga meiliki pot bunga satupun. Memprihatinkan.
Sekitar rumah-rumah banyak pohon besar memberikan keteduhan tidak pandang bulu kepada rumah beton dan kayu keropos. Pohon-pohon berjejer di sepanjang jalan tidak ada keraguan tumbuh dimanapun ada lahan kosong. Jenisnya pun beragam. Pohon kelapa ditemani pohon jambu, palm, alpukat dan dipagari tebu. Alami dan mempesona.
    Posisi kota ini sangat strategis. Untuk menuju obyek-obyek wisata seperti Danau Toba, Salib Kasih, Taman Iman, Pantai Nias harus melewati kota ini dari Bandara Polonia Medan. Selain itu, diketahui bahwa daerah pengapitnya juga penghasil kekayaan alam komoditi ekspor. Yaitu Kabupaten Simalungun yang terkenal dengan Karet, Teh, Sawit dan hasil pertanian. Batasan wilayah kota ini dari semua penjuru mata angin diapit oleh Kabupaten Simalungun ini. Hasil bumi yang berlimpah dari Kabupaten Simalungun, diperdagangkan di Kota Siantar ini. Inilah yang menjadi sebab kegiatan ekonominya berperan besar di sektor perdagangan. Lex menemukan salah satu obyek wisata yang non touristic di kota ini adalah kegiatan dagang subuh hari yang dapat disaksikan dari pasar Parluasan sampai ke terminal bis Parluasan.
Bahkan pemandangan pasar wisata di Hatyai (perbatasan Malaysia-Thailand) tidak berarti dibandingkan suasana pasar pagi ini. Dingin, ramai dan penuh perjuangan.
Sungguh elok bukan main keramaian itu. Pembeli datang dari penjuru daerah sekitar Kota, begitu juga dengan pembelinya. Penduduk lokal sebagian besar mengambil peranan sebagai penyalur sekaligus tuan rumah bagi pembeli. Sangat pintar. Kuli-kuli berbadan besar terlihat mondar-mandir dengan memanggul keranjang dari satu truk ke truk lain atau ke kios-kios. Kiosnya juga unik, hanya dengan menggelar terpal biru kemudian mencecerkan semua dagangan di atasnya dilindungi semacam payung besar berkerangka bambu.
Penjual dan pembeli berteriak-teriak lantang. “mana barangku ito?!!, uda kau turunkan dari muka sana!” (muka artinya depan, bukan muka=wajah)
Penjual-penjual gagah perkasa menenteng keranjang besar-besar, keringat sebesar jagung bercucuran, tidak sarapan, sebagian menggendong anak di punggung, kulitnya hitam, rambutnya keriting acak-acakan dan mereka adalah perempuan. Ibu dari anak-anak yang harus diberi makan. Suku Batak memiliki semangat juang yang sulit ditandingi. Tidak heran putra putri Batak Kota Siantar banyak menduduki bangku perkuliahan Universitas ternama di Indonesia. Mereka hebat.
    Matahari mulai melayang, sinarnya cerah kekuningan mewarnai langit jingga muncul dari perbukitan ditemani udara pagi yang masih dingin dan sejuk. Seperti lukisan sang maestro, perbukitan di sebelah timur sungguh Indah, hijau dan bahagia. Pasar mulai sepi dan Lex serta seorang temannya kembali melanjutkan perjalanan menuju Danau Toba.

    Masih tetap ala backpacker, mereka menaiki bus tujuan Kota Parapat Danau Toba dengan harga ongkos yang paling murah. Busnya sungguh memprihatinkan. Kaca samping tidak lengkap, ada yang diganti dengan pelastik transparan. Bangkunya sama sekali tidak empuk padahal berbusa. Ada penumpang bawa ayam di kolong tempat duduknya.Tapi penumpangnya tidak senasib dengan busnya, banyak cewek muda berdandan bersih, putih, harum tidak tahu atas pemikiran apa naik bus omprengan ini. Awalnya Lex dan temannya harus berdiri karena tidak kebagian tempat duduk kosong. Tapi setelah jalan setengah jam ada rombongan penumpang turun dan mereka bisa duduk sedikit bahagia.

    Perjalanan menuju danau Toba tidak kalah menarik seperti menuju Siantar. Kali ini kanan kiri dipenuhi pohon cemara tinggi gagah menantang langit. Jaraknya beraturan satu sama lain seperti ditanam petani handal, kenyataannya tumbuh semaunya layaknya hutan. Seperti lorong-lorong istana bila berhenti sebentar memandang jauh ke dalam hutan. Pohon-pohon itu berbaris rapi seperti pasukan pengibar bendera. Tenang, rimbun, hijau, sungguh ciptaan alam yang menakjubkan dan wajib dikunjungi bagi insan pecinta alam.
Jalan lurus, sesekali berbelok dan ditemani rumah-rumah sederhana penduduk khas Batak. Mendekati Danau Toba jalan mulai berbelok, beberapa belokan biasa, sampai beberapa dilewati belokan mendekati sudut tiga puluh derajat. Diantara pepohonan yang lebat, berdiri beberapa rumah yang sekaligus sebagai warung makan, ada juga lapo, semacam warung kopi di daerah melayu. Disampingnya bertengger truk-truk yang mampir untuk beristirahat atau sekedar nongkrong.
Setelah melewati tikungan yang cukup tajam, tiba-tiba jalan sedikit kelabu ditutupi pepohonan yang semakin banyak dan semakin tinggi. Perbukitan naik turun di bagian jalan sebelah kiri menutupi pepohonan yang tadi berbaris rapi. Tumpukan tanah tinggi berwarna kuning kecoklatan dan diduduki pepohonan yang lebih kecil dari yang banyak dilewati sebelumnya. Lewat satu tikungan ringan tampaklah dengan luas dan megah Danau Toba nan eksotis.

Matahari yang menantang dari perbukitan pinggir danau menyilaukan mata dan menyirami permukaan danau dengan warna cerahnya. Membuat danau tampak biru kehijauan dengan gradasinya seakan menghipnotis mata untuk berhenti berkedip. Menakjubkan. Di ujung mata memandang terlihat perbukitan yang mengelilingi Danau, samar ditutupi kabut. Sebagian kecil Pulau Samosir yang berada di tengah danau mengintip di balik bukit tidak mau tertinggal dari perhatian orang.

Panorama ini seperti telah lama disembunyikan alam untuk dipersembahkan sebagai hadiah istimewa bagi Lex dan temannya. Mereka sungguh terkesan. Jalan raya menyusuri tebing pinggir danau. Seakan berjalan di pinggir jurang dalam yang dasarnya adalah Danau Toba. Pepohonan tumbuh menuruni jurang sampai ke bawah di pinggiran Danau. Kanan kiri jalan mulai banyak melewati penginapan dan rumah makan. Dan perut mereka pun keroncongan.

    Sesampainya di pintu gerbang Danau, mereka merasakan suasana seperti di kota biasa. Nuansa pariwisata kurang menarik perhatian. Tidak ada patung-patung selamat datang seperti memasuki kawasan Candi Borobudur. Sangat sedikit papan reklame besar yang seharusnya menawarkan paket-paket wisata. Bahkan sepertinya mereka tidak melihat satupun iklan paket wisata atau obyek wisata apa yang ditawarkan di tempat itu. Untungnya beberapa hari sebelumnya, Lex telah menyusun kegiatan di sana. Mereka akan menghibur diri sendiri dengan mencari petualangannya sendiri dengan Danau Toba.
    Berjalan memasuki area danau, untuk mencari penginapan murah yang sebisa mungkin membelakangi Danau Toba. Yang bisa berleha-leha sambil menikmati pemandangan danau. Dan setelah berjalan cukup jauh, akhirnya mereka menemukan satu penginapan dengan harga terjangkau dan pastinya balkon menghadap danau. Kamarnya cukup bersih, luas, berisi dua kasur empuk, tapi tidak ber AC. Tentu bukan jadi masalah, karena udara di pinggir danau ini cukup dingin tapi tidak berasa menusuk tulang seperti musim dingin di beberapa negara Asia. Kamar mandinya juga bersih, dilengkapi dengan fasilitas air panas. Beruntungnya mereka.
    Setelah istirahat sejenak dan mandi air hangat, dua sahabat ini mencari warung makan di sekitar penginapan. Sudah banyak yang tutup mengingat waktu sudah hampir jam sembilan malam. Salah satu yang buka menyediakan menu andalan nasi goreng. Tidak bertanggung jawab akan julukannya sebagai menu andalan, nasi gorengnya hambar. Hanya terasa rasa minyak di goreng tanpa rasa gurih atau asin sedikitpun. Mungkin karena hampir tutup jadi bumbu yang dimasukkan hanya tinggal sisa saja. Meski begitu, mereka berdua terlihat lahap menikmatinya. Berbincang-bincang ditemani nasi goreng hambar di balkon hotel yang menghadap danau. Sejuta bibit kebahagiaan telah tertanam di otak mereka yang dihasilkan suasana eksotis danau, masuk melalui mata yang terhipnotis dan terpancar melalui senyum kecil di bibir mereka.bersambung ke “That would be Toba Dream”

    Sudah 2 hari, Lex dan dua travel partners-nya berada di negeri nan exotix Thailand. Hari ini mereka berencana melakukan perjalanan backpacker ke Phi Phi Island yang pernah menjadi tempat syuting film The Beach yang terkenal itu. 


Seperti yang sudah mereka ketahui, untuk mencapai pulau itu mau tak mau harus naik kapal dari pelabuhan di dekat Phuket Town. Dan mereka harus menyewa taksi dari penginapan.
Sedikit cerita keunikan penginapan murah meriah ini adalah lantai dasarnya (lobi). Biasanya di kebanyakan penginapan pariwisata terdapat lobi di lantai dasar, yang dipenuhi perabotan modern atau cenderamata khas daerah itu. Di penginapan ini, lobi di lantai dasar dipenuhi barang-barang antik. Dari koper-koper udik, senjata api jadul, koleksi foto tempoe doloe, sampai rumah telepon umum klasik nan unik. Lebih layak kalau lobi itu disebut sebagai museum. Selidik punya selidik, ternyata semua barang-barang nostalgia itu adalah koleksi pribadi si pemilik penginapan yang dari tampang terlihat seperti pria asia tak berseni.



    Taksipun di dapat ketika ketiganya sedang berjalan tak tentu arah keluar dari penginapan. Hebatnya taksi dadakan di Thailand. Sebuah mobil Honda Jazz, masih terlihat mulus luar dalam. Pemiliknya seorang Bapak paruh baya yang hobi memberikan informasi meski tak dibutuhkan. Bahasa Inggrisnya lumayan, tidak sebanding dengan keahlian cara membawa mobilnya. Bapak ini seolah dirasuki setan tour guide. Penjelasannya lengkap dengan alternatif dan solusi terbaik untuk Alex cs. Ketiga sekawan terlihat ragu dan penasaran bercampur aduk yang sering terlihat dari saling pandang heran ketiganya. Sampai Alex sadar tingkah aneh si Bapak yang selalu grogi nyetirnya waktu menjelaskan secara detail suatu hal. Sampai suatu kali Beliau meminggirkan mobilnya demi menjelaskan paket kapal yang sudah termasuk antar jemput ke penginapan. Jelas saja fenomena ini menghabiskan cukup waktu yang berakibat fatal ketinggalan kapal ke Phi phi Island.
Setelah tiga sekawan sepakat untuk tidak lagi meminta info ke si Bapak sampai ke pelabuhan, perjalanan lancar. Tentu saja mereka menggunakan bahasa Ibu pertiwi agar driver kondang itu tidak terusik batinnya. 


    Sesampainya di pelabuhan, beruntungnya mereka kapal masih banyak berbaris. Sungguh indah pemandangan di situ. Bangunan pelabuhannya sama seperti kebanyakan pelabuhan di Indonesia. Tapi silahkan perhatikan lingkungannya, bersih bebas sampah makanan ringan dan sejenis, tidak tercium bau toilet, dan mobil-mobil travel yang parkir semuanya layak pakai dan keluaran terbaru. Toko klontongannya juga berkelas, hot dog, burger, tom yang berbaris rapi. Sejauh mata memandang juga dipenuhi bule rambut pirang yang lalu lalang tak tahu sibuk apa. Para travel banyak membuka stand penjualan tiket. Penjaganya tidak ada yang enak dipandang. Mungkin lagi high season, berdandan dekil pun pasti tetap banyak yang mau datang membeli tiket.
Penjual-penjual ini tidak ramah sama sekali. Susah mendapatkan senyum di wajah mereka, yang semuanya kelihatan mirip. Sampai ada satu bule kumal (backpacker sejati) yang mencak mencak berkata “you are good man!” kepada seorang agen laki-laki tampang cuek. Ternyata si bule kumal itu dicuekin ketika bertanya lebih rinci mengenai paket yang ditawarkan. Sebabnya, si penjual tiket di datengi bule cewe muda, cantik. Kontan si bule kumal kabur sembari komat kamit tidak jelas.
Alex yang sibuk mengamati bule-bule terkeh kekeh melihat pemandangan lucu itu. Kedua temannya tahu sebenarnya Alex juga tadinya sedang memperhatikan bule muda cantik itu. Begitu sampai tadi, urusan pembelian tiket diserahkan kepada salah satu teman travelingnya yang pemberani. Sementara dia sibuk mempelajari keindahan ciptaan Tuhan berupa paras cantik dari berbagai belahan dunia. Sesekali senyum pun tersungging di bibirnya ketika bule cantik di ujung sana membalas tatapannya. 
    
    Di pelabuhan ada pengkelasan berdasarkan kwalitas kapal dan tentu saja harga. Kira-kira ada tiga kelas kapal dan ketiganya berbaris dari kiri ke kanan sepanjang pinggir pantai. Paling kiri itu semacam kelas ekonomi, yang menggunakan kapal kecil dan dihuni sebagian besar backpaker terutama berambut pirang. Di sebelah kanannya bertengger beberapa kapal kelas bisnis. Kapalnya lumayan bagus, bertingkat dan kebanyakan bewarna putih. Kapal-kapal ini layak disebut kapal pesiar. Dari segi harga, dapat dipastikan lebih mahal dari kelas ekonomi tadi. Para penghuninya pun banyak diisi keluarga bule yang benar-benar dalam bentuk keluarga. Kenapa begitu, karena di kapal itu dapat dilihat ada beberapa anak kecil, remaja, orang tua sampai manula. Dan yang terakhir, persis di sebelah kanannya berbaris beberapa kapal yang cukup bagus dari penampilannya. Bertingkat, diberi snack dan kopi saat pertama naik, ruangan di lantai dasar pakai AC serta dipenuhi bule-bule bentuk keluarga dan beberapa ABG berisik. Dari semua penghuni kapal sangat sedikit bisa dilihat orang asia. Dan dari secuil orang asia itu, terdapatlah tiga manusia asia dengan penampilan santai bak turis Eropa. Mereka adalah Lex dan kedua temannya.


Mengapa mereka bisa nangkring di kapal yang tidak seharusnya mereka berada di situ hanya mereka dan si sopir taksi yang tahu. Dengan muka yang sumringah luar biasa, snack dan kopi telah berhasil didapatkan. Betapa bahagia hati mereka. Bisa menikmati sarapan di negeri nan jauh, di dampingi turis-turis rambut pirang, di atas kapal pesiar yang di Negeri mereka saja belum tentu pernah melihatnya.

Matahari mulai berkuasa menghamburkan sinarnya menimpa ketiga wisatawan asal Indonesia itu. Canda tawa menghiasi percakapan ketiganya di atap kapal seolah bule yang sangat merindukan panas matahari. Sesekali terlihat mereka sibuk memasang kuda-kuda mata mencari bule sesuai dengan seleranya masing-masing. Lex, sebagai pria satu-satunya dari ketiga sekawan itu hanya bisa berkomentar sendiri tentang kecantikan bule yang dilihatnya.



    Mencari partner untuk traveling itu gampang-gampang susah. Mereka gampang mengatakan iya dan cukup tega membatalkan secara dadakan. Masalahnya bukan karena partner itu terlalu penting, tapi kekejamannya itu bisa merontokkan sedikit semangat juga. Makanya ketika tau Air Asia akan mengadakan promo, bukannya bingung menentukan negara tujuan, Alex malah pusing memilih nama-nama teman dari handphone, facebook, YM (dan sejenisnya) yang memungkinkan untuk diajak gila-gilaan di negara lain.
    Sebenarnya si Alex sudah mendapatkan info promo Big Dealnya Air Asia seminggu sebelum promo tersebut dibuka.  Konon ajang obaral tiket itu diadakan 2 kali setahun, di pertengahan tahun. Siang itu ketika Alex internetan di kantor, sebuah email masuk dari air asia. Di situ dipampang besar-besar dengan warna khasnya, merah ngejreng bertuliskan Big Deal. Ada lagi tulisan yang paling buat dia kaget sampai telunjuknya di mouse komputer bingung mau klik kiri atau kanan. Tulisannya, harga mulai Rp.10.000. Gila! Tanpa kelihatan ragu seditkitpun, Alex langsung mengklik link tersebut yang membawanya ke alamat situs Air Asia. Benar saja, dia melihat ada beberapa harga yang bikin ngiler dan memunculkan hasrat untuk memborong semua tiket andai itu mungkin.
    Sebelum memboking tiket, Alex mempelajari dulu kalender 2012. Itulah hebatnya dia, yang selalu berpikir out of the box. Hari-hari merah yang ada di bulan Februari sampai Juni semua diberi tanda khusus dan catatan kecil disampingnya. Catatan yang berarti kemungkinan berapa hari bisa mengambil cuti sekitar tanggal tersebut. Atau kemungkinan lain yang diprediksinya sebagai cuti bersama. Dipikirannya yang cuek sebenarnya Alex menganggap cuti bersama itu sebagai pembunuh sadis jatah cuti tahunan pegawai. Promo Big Deal kali ini terbang mulai Februari-Juni 2012. Hebat juga air asia ini sudah membuka tiket setahun ke depan. Mungkin mereka mengumpulkan dana setahun sebelumnya untuk dikelola menjadi lebih banyak lagi, seperti menabung kemudian berbunga (dangkal). Dan setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya Alex mendapat tanggal yang pas untuk melakukan perjalanan kali ini.
    Pertimbangan lain mucul di benaknya, memilih teman yang cocok untuk misi kali ini, yaitu hidup lebih irit dan lebih menantang dari traveling sebelumnya. Dengan tantangan yang seperti itu, gender yang lebih tepat untuk dapat merealisasikannya jatuh pada kaum sejenisnya. Pria jantan. Faktor utama ya karena gak perlu khawatir dilecehkan penduduk lokal dan gampang diajak nekad. Semua teknologi yang memiliki nama teman-temannya mulai di preteli isinya. Dari urutan abjad sampai nama-nama aneh seperti keong racun mulai dipilah-pilah di otaknya. Sepintas kembali teringat beberapa memori indah ketika bersama teman-temannya itu, yang membuat wajahnya berseri. Hebatnya, otaknya secara otomatis mengelompokkan kenangan baik dan buruk dari mereka semua. Sehingga memudahkan Alex mensortir nama-nama yang layak masuk nominasi.
    Setelah memperoleh beberapa nama, mualailah dia meng-sms, kirim email, telpon sampai chatting. Lucunya, jawaban mereka unik-unik. Ada yang mengatakan, “maaf ga bisa..”. “kenapa?” tanya Alex. “belum ada jatah cuti” jawab orang di sebrang telepon. Kasian juga temannya itu. Ternyata banyak dari teman Alex baru saja melandaskan cita-cita mereka sebagai Abdi Negeri alias PNS, jadi belum berhak atau berani cuti sebelum setahun kerja. Ada juga temannya yang mengatakan tidak bisa ikut karena takut memprediksi kemungkinan jadwalnya setahun ke depan. Belum lagi ada isu kiamat katanya. Gubrak! Yang lebih parah, ketika ditelpon temannya itu malah memberikan tebak-tebakan dulu sebelum mau diajak traveling bareng. Isinya begini, di satu kolam ada 20 ekor ikan lele. Kalau 5 ikannya mati, airnya berkurang atau bertambah? Nah lho. Alex mengerutkan sedikit keningnya bertanda heran. Biasanya yang ditanya kan jumlahnya tinggal berapa? Tidak lama Alex menjawab,”tetap!”. “kenapa?” tanya temannya itu. “Ya karena ikannya mati, jadi gak perlu ngabisin air lagi untuk mandi, minum dan cebok” jawabnya. “Salah!” balas temannya dengan cepat. “trus jawabannya apa gan?” Alex bertanya. “Ya bertambah..”. “kok bisa?” tanya Alex lagi. “karena temen-temennya yang 15 pada nangis sedih!” tut tut tut… terdengar suara telepon di sebrang sana sesaat setelah Alex langsung menutup telponnya.
    Akhirnya Alex menemukan jawaban “ya” yang diucapkan lantang bersemangat oleh sahabat karibnya ketika kuliah dulu. Beberepa kali mereka telah melakukan traveling ala anak kuliahan kere tapi kece dulu ketika kuliah bersama. Mereka sepakat untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi tujuan wisata mereka, VIETNAM…