Uncategorized


Melakukan wisata ke tempat yang ternyata hampir tidak memiliki obyek wisata sangat ironis. Suasananya jadi benar-benar tidak menyenangkan. Tidur tak nyenyak, nyamuk jadi banyak, nafsu makan hilang, nafsu membunuh (nyamuk) meningkat, orang-orang terlihat menjengkelkan dan otomatis cewek-cewek lokal jadi kayak cowok, tidak menarik lagi. Mungkin situasi seperti ini yang dikatakan ABG tetangga sebelah rumah dengan nama ‘mati gaya’. Atau mungkin mereka akan berkata, “bunuh aja gue!”. Untung Lex tidak segaul itu, dan masih bisa menahan diri untuk tidak menuntut Departemen Pariwisata.

        Lex sedang berada di suatu kota di Sumatera Selatan. Sebenarnya penduduk lokal dari segi fisik enak dipandang. Karena kulitnya putih bersih dan wajah mereka seperti Indocina. Gaya bicaranya mendayu-dayu khas melayu. Tapi kebanyakan dari mereka sudah tidak lagi memiliki gigi yang bagus meski usianya masih belia.

Ketika Lex sedang makan di suatu rumah makan khas setempat, seorang wanita muda berparas ayu mengajaknya kenalan. Kulitnya putih, rambutnya lurus sebahu, wajahnya lumayan, kesan pertama yang mempesona. Selesai berjabat tangan dia menyebutkan namanya sambil tersenyum manis. Langsung saja giginya yang hitam-hitam pecah bermunculan. Lex membatin, “Tuhan maha adil. Memang tidak ada manusia yang sempurna”.
        Di kota ini Lex tinggal di tempat salah satu saudaranya. Di hari pertama tiba, suasana masih normal karena lingkungan rumah saudaranya masih asri. Banyak pohon besar menghasilkan oksigen yang berlebih. Adem ayem. Tetangga juga ramah-ramah. Lex banyak menghabiskan waktu untuk berkeliling di sekitar rumah saja. Mengamati tingkah laku orang-orang yang unik, cara bicara, kehidupan sehari-hari mereka. Semuanya hal yang baru di mata Lex. Karena budaya di sini jauh berbeda dengan budaya tempatnya tinggal. 
Dengan mengamati perilaku orang, merupakan suatu keunikan sendiri bagi Lex. Dia mengajak beberapa tetangga untuk ngobrol-ngobrol. Lex jadi tahu kalau penduduk lokal suka sekali makan ditemani cuka sebagai bumbu pelengkap. Itulah yang menyebabkan  gigi mereka rusak. Makanan khas mereka kebanyakan terbuat dari ikan karena mereka memiliki sungai yang menghasilkan banyak ikan. Hiburan masyarakat yang disukai adalah organ tunggal. Pertunjukan musik dimana penyanyi hanya diiringi satu organ/keyboard yang menghasilkan suara seperti konser musik. Aliran musik yang dimainkan kalau bukan dangdut pasti house musik. Pinggul atau kepala digoyang.
Satu kebiasaan buruk warga, menurut satu tetangga adalah tusuk dengan pisau. Harap waspada ketika menonton organ tunggal tadi. Salah senggol atau kakinya terinjak bisa berujung maut. Dan menurutnya, semakin banyak jumlah tusukan pisau di punggung atau tubuh bagian lain, maka semakin jantan orang tersebut. Hah?!
Tidak heran jika sebagian besar warga kemana-mana bawa pisau di pinggangnya. Mungkin kalau negara tetangga mengetahui hal ini, mereka akan segan mengambil pulau dari Indonesia.
        Hari selanjutnya sang saudara mengajak Lex berkeliling. Tempat yang pertama dikunjungi adalah GOR (Gedung Olah Raga). Lex protes karena dia tidak merasa atletis sama sekali. Lex nurut setelah sang saudara menjelaskan wisata kuliner di sini enak. Halaman GOR memang cukup luas, banyak pohon besar bertebaran. Banyak tukang jualan berserakan. Sebagian berbaris teratur sebagian semaunya. Makanan yang dijual juga beragam. Ada nasi goreng, sate, pecel, soto, es buah, lontong, martabak, dan pastinya makan khas setempat. Herannya semua menu makanan disediakan cuka sebagai bumbu, seperti sambal pedas kalau di warung normal. 
Makanannya enak-enak dan hampir semuanya pedas. Sambil makan mereka bisa melihat pemandangan kendaraan yang lalu lalang, olahragawan dengan peluh di jidat, dan daun-daun yang berjatuhan. Sama sekali bukan hal yang dramatis.
        Hari berikutnya mereka menjelajahi mall yang ada di kota itu. Waktu itu mall nya ada tiga, dan semuanya tidak terlalu besar. Isinya juga toko-toko yang biasa seperti mall pada umumnya. Barang elektronik lumayan murah di kota ini. Yang paling banyak dan mencolok adalah penjual DVD. Setiap penjual berlomba meraih gelar sebagai pemasang speaker terbesar.  Kanan kiri speaker dengan ukuran super jumbo berdentum keras. Setiap penjual memainkan musik andalan masing-masing yang tidak jauh dari aliran house musik. Lagu-lagu pop diaransemen menjadi disco darurat. Berisik bukan main mall di kota ini. Pembeli terlihat teriak-teriak memilih lagu, sampai urat leher menonjol berwarna kebiruan.

        Hari terakhir Lex menuntut diajak ke tempat yang paling menarik dan menjadi andalan. Dia bosan hanya jalan-jalan ke tempat yang banyak dijumpai di Indonesia. Sang saudara berjanji akan mengajaknya ke tempat spesial di kota bahkan di Propinsi itu. Tibalah mereka di suatu tempat yang disebut sungai. Airnya kuning dekil dan bau. Tapi di pinggirannya banyak warga yang memanfaatkannya untuk mandi, mencuci, menimba air mungkin untuk dimasak, memancing, bahkan ada yang buang air besar juga. Pemandangan yang lucu dan unik. 
“apa yang spesial?” tanya Lex. 
Sang saudara menceritakan kalau dulu zaman penjajahan, sungai ini terkenal, jembatannya juga. Katanya dulu kapal-kapal besar mengangkut rempah-rempah masuk dari luar negeri melalui sungai ini. 
“loh, kok bisa? kan ada jembatannya?emang dalam?” Lex mulai sewot. 
Kata sang saudara jembatan ini dulu bisa terbelah di tengah dan naik ke atas, jadi kapal besar bisa lewat. Hebat juga. Dan sungainya dikeruk dalam, pasirnya dijadikan bahan bangunan.
Memang jembatan itu terlihat gagah, dengan pondasi yang terlihat kekar dan tali-tali besar yang dulu untuk menarik jembatan masih terlihat kuat. Andai di foto dari jarak agak jauh, jembatan ini pasti menjadi obyek yang menawan. Dan andai airnya masih bersih, tidak kalah bila diadu dengan sungai Mekong di Vietnam. Tinggal dilengkapi sarana prasarananya seperti kapal nelayan untuk turis di Venice, Italy. Tidak kalah romantis.


Paling enak menjalani hobi sama teman yang juga mempunyai hobi yang sama. Bisa seru-seruan, lucu-lucuan, gila-gilaan bareng. Perjalanan yang tadinya udah menyenangkan jadi tambah menarik lagi. Apalagi kalau teman travelling itu cewek dan enak dilihat pula. Bahagianya hidup ini.
Lex dan Racy, dua sahabat yang bertemu secara tidak sengaja melalui group travelling di internet. Mereka berdua memiliki hobi yang sama, travelling pastinya. Kesamaan unik dari keduanya adalah sama-sama suka hidup sederhana. Low profile kata orang-orang.


Racy orangnya baik dan apa adanya. Sepintas kelihatan penganut cuex is the best. Tapi kalau sudah kenal secara otomatis jadi suka sama pembawaannya, gaya bicaranya, senyumnya dan terutama pada matanya. Menurut si Lex matanya mirip mata VJ Hannah. Kalau masih belum kenal, itu lho yang sebagai Nyonya Tio di film ‘Awas Ada Sule’. Matanya seperti berbicara kalau memandang serius. Indah. Mimpi apa si Lex bisa travelling berduaan dengan makhluk seindah ini.


    Tujuan mereka adalah Phi Phi island, Thailand. Keduanya menyukai tempat itu karena suasananya yang romantis. Itu juga karena melihat photo-photo googling di internet. Entah dasar pemikiran apa dua mahluk ini memiliki pandangan yang sama pada keromantisan Phi Phi. 
Racy pernah berkata, “apa mungkin karena kita sama-sama scorpio ya..? jadi sukanya yang romantis-romantis..” 
Lex cuma diam tersenyum melihat kata romantis yang keluar dari mulut seorang Racy dengan dukungan dari mata indahnya. “Help me God” batinnya berseru.
Lex membantu Racy menyusun list barang-barang yang harus dibawa via email. Racy membantu Lex mencari informasi sebanyak mungkin mengenai cewek-cewek di Phi Phi. Simbiosis mutualisme. Berawal dari keterbukaan dan apa adanya, Lex memulai pertemanannya dengan Racy. Tidak ada yang perlu ditutupi begitu rapat, dan Racy merasa nyaman dengan itu semua.


    Hari minggu, tanggal 17 April jam 2 siang, mereka bertemu di Bandara Soekarno Hatta. Lex janji mengenakan kaos warna biru, warna favoritnya dan Racy menggunakan warna pink, yang juga favoritnya. Warna baju yang disepakati untuk memudahkan mencari satu sama lain. Dan siang itu di depan restoran cepat saji keberangkatan internasional keduanya bertemu untuk yang pertama kalinya.
Lex : “Hai.. Racy ya?”
Racy : “Eh iya, hai juga..Lex?
Keduanya diam sejenak, saling senyum dan sesekali melirik interogasi. Lex mencairkan suasana, “tenang, gw gigitnya gak kencang kok..”
Racy kembali tersenyum ramah dan matanya tambah indah.
“gw juga gak gigit kok..” katanya lembut.
“cuma pengen jelas aja ngeliat orang yang bakal ngejagain gw seminggu ke depan” suaranya sedikit manja.
Lex kembali tersenyum, tapi ada sesuatu yang menyentuh hatinya. Racy menuntut kedewasaan si Lex. “mimpi apa gw semalam”, batin Lex.
“dapet semua daftar list barang bawaan lo?” tanya Lex
“dapet. Thanks ya..”
“eh ni, di hape gw ada banyak info cewek-cewek pesanan lo” katanya cuek.
Racy menyerahkan handphonenya, dan Lex langsung meraihnya. Lex sempat menggenggam jari telunjuk dan jempol Racy yang sangat halus. Hati Lex berdesir. Racynya masih cuek. Lex membluetooth pesanannya ke HP nya.
Kemudian mereka berdua segera check in ke counter di dalam bandara. Dengan isengnya si mbak-mbak tukang tiket bertanya ke Racy, “tiket suaminya mana mbak?” Racy menjawab, “dia temen saya mbak, minta aja ke orangnya”. Hati lex menguncup layu.


    Perjalanan ke Bandara Phuket di tempuh selama dua jam. Dan selama dua jam itu Lex dan Racy memulai pengenalan lebih jauh lagi satu sama lain. Racy anak kedua dari empat bersaudara. Bekerja di salah satu perusahaan akuntan big four. Lesu ketika menceritakan waktu kerjanya yang terlalu padat, sering pulang jam dua pagi dan terpaksa harus ngekost di dekat kantornya. Racy sebenarnya pengen sekali masuk PNS. Tahun lalu dia gagal, dan meminta doa Lex agar tahun ini dia bisa lolos seleksi PNS. Dengan senang hati Lex akan berdoa untuknya.
Baru dua bulan Racy putus dengan pacarnya yang sudah berpacaran selama empat tahun dengannya. Travellingnya ini salah satu niatnya melupakan sang mantan yang susah dilupakannya dan lari sejenak dari rutinitas kerja. 
Kembali Racy meminta Lex mendoakannya, “bantuin gw doain supaya gw cepet-cepet ngelupain dia ya Lex..” pintanya. Dengan semangat dan lapang hati, Lex akan mendoakan seperti yang dimintanya. Amin.


    Dari phuket, mereka naik kapal ke Phi Phi dan membeli paket tour lokal di Phi Phi island. Paket tour lokal itu membawa peserta mengelilingi pulau-pulau eksotis dan romantis di sekitar Phi Phi. Menggunakan kapal nelayan yang dinamakan Long Tail Boat oleh penduduk setempat. Salah satu pulau yang dikunjungi adalah Maya Bay, yang merupakan tempat syuting film ‘The Beach’, Leonardo di Caprio. Sungguh romantis pulau itu.
Dalam kapal berisi peserta yang berpasang-pasangan, setidaknya terlihat seperti itu. Hanya ada seorang peserta asal Korea yang sendirian dan dua orang perempuan sahabatan. Lex dan Racy juga terlihat seperti pasangan. Mereka duduk berduaan dan jarang melakukan basa-basi dengan bule-bule lain.

    Spot pertama, mereka semua turun untuk snorkeling. Lex dan beberapa kaum adam penghuni kapal terpesona dengan tubuh putih Racy yang didukung mata indahnya. Lex tahu, mereka juga pasti setuju dengan keindahan yang dipancarkan mata Racy. Sebenarnya pasangan mereka tidak kalah seksi dengan Racy, bahkan ada pasangan dari Finlandia yang ceweknya aduhai bikin kepayang sedangkan cowoknya amit-amit. Tapi cewek-cewek itu tidak memiliki mata semenarik Racy. Pesaing Racy yang juga bermata indah adalah salah satu dari dua sekawan perempuan. Tubuhnya juga tidak kalah seksi, bahkan lebih tinggi dari Racy. Lex sempat menebarkan senyumnya ke cewek itu.
Namanya Ming, bule asal London. Bapaknya Inggris dan Ibunya Philippine. Mukanya bule ke asiaan, tinggi, kelihatan smart dan matanya indah. Sebenarnya Lex tidak terlalu memperhatikan peserta lainnya selain Racy. 
Perkenalan Lex dengan Ming berawal dari perhatian kecil yang diberikan Ming ketika melihat kaki Lex sedikit berdarah akibat terlalu semangat snorkeling. Kaki kanannya menendang karang yang sedikit lebih tinggi.
Ming: “kaki kamu berdarah tu..”
Lex: “sshhh.., makasih ya” kaget melihat kakinya yang berdarah.
Ming: “tapi gak usah takut, kelihatannya itu tidak terlalu berbahaya.., hmm mungkin kamu menendang karang yang tinggi itu ya?”
Lex: “sepertinya. Tadi aku memang lewat situ”
Ming: “tenang, sebentar juga darahnya berhenti”
Lex: “aku tidak akan segera mati kan? kakiku masih bisa maen bola kan?”
Ming: “haha..gak apa-apa..cuma tergores”


Tidak lama kemudian Racy naik, dan melihat kaki Lex berdarah. Dengan prihatin dia bertanya kenapa. Yang langsung disambut Ming dengan bahasa Inggrisnya. “gak apa-apa, cuma tergores”
Racy langsung terdiam tanpa menoleh ke Ming. Mukanya tiba-tiba muram. Racy tidak suka perhatiannya ke Lex disambut pesaingnya di kapal itu. Lex tidak menyadari kejadian barusan.
Spot kedua kembali mereka snorkeling dan menikmati buah nanas yang disambut dengan sangat antusias oleh bule-bule. Lex dan Racy hanya tersenyum melihat lahapnya mereka menghajar si nanas. “Di barat sana gak jual nanas kali ya?” bisik Racy ke Lex. Lex tersenyum.
Setibanya di spot film ‘The Beach’ suasananya sangat romantis. Ming hanya duduk menikmati pemandangan nan indah di pinggiran pantai yang dangkal. Racy asik berfoto-foto narsis dengan background keindahan pasir putih, sinar matahari yang mengintip dari balik bukit dan bule-bule yang bergaya bak fotografi handal. Ada dua long tail boat yang bersandar di pinggir pantai dangkal terlihat artistik. Entah sengaja atau tidak, tapi cukup menarik perhatian Lex dan Racy. Satu lagi kesamaan sudut pandang mereka.



    Matahari masih bersinar terik, angin laut terasa dingin dan kencang menimbulkan ombak-ombak kecil di lautan. Long Tail Boat mereka melaju kencang menghantam ombak membuat kapal bergoyang naik turun. Lex duduk di bagian belakang dan Racy di sebelahnya tapi agak jauh di ujung tepi sebelah kiri. Ming yang duduk di depan mereka sering kecipratan air di posisinya sekarang. Dia clingak-clinguk mencari di sekitar posisi yang tidak terkena cipratan air. Ketika menoleh ke arah Lex, Lex menunjuk tempat di belakangnya yang tidak terkena cipratan. Ternyata dari tadi Lex sudah memperhatikan tingkah Ming yang lucu menghindari cipratan-cipratan air. Ming langsung menuju tempat yang ditunjuk Lex. Racy melirik sok cuek.
“Duduk sini aja, cipratannya dikit” kata Lex
“iya, disitu banyak air muncrat” kata Ming polos
“nama kamu siapa?” tanya Lex
“Ming, kamu?”
“Lex”
“Dia istri kamu?”
“bukan, teman seperjalanan” jawab Lex dengan senyuman.
“Oh iya, saya orang yang keberapa kalau saya mengatakan mata kamu cantik?” goda Lex. Ming hanya tersenyum dan mukanya memerah.
Pembicaraan mereka berlanjut diselingi candaan Lex yang disambut senyum manis dan tepukan lembut di tangan Lex. Ming jadi lebih lepas.
Racy yang mendengar pembicaraan mereka membuang pandangannya jauh ke tengah laut dan keningnya mengerut. Hatinya gelisah, Racy mulai gundah.
Ming bekerja sebagai guru SLTP di London, status lajang dan sedang mencari pasangan hidup yang tepat. Lex, senyum penuh arti. “apa ini juga kebetulan?” batinnya. 
“saran saya, ingat aja kalau tidak ada manusia yang sempurna.. Tinggal kamunya aja dan pasangan kamu bagaimana melengkapi kekurangan masing-masing” kata Lex sok pinter. Ming mengangguk dan hatinya memberi ruang untuk kata-kata yang baru saja diucapkan Lex. Selama pembicaraan mereka Lex merasakan senang berbicara dengan Ming. Walau perbendaharaan English Lex tidak seberapa, tapi dia merasa nyaman dekat Ming. Ming juga tidak henti-hentinya memukul lembut tangan Lex dan senyumnya yang kelihatan tulus tak henti-hentinya terpancar dari bibir manisnya.



    Jakarta kini berumur 484 tahun. Sebagai ibu kota negara, hari jadinya dirayakan dengan berbagai acara yang spektakuler. Tidak tanggung, warga Jakarta dan sekitar bisa menikmatinya selama satu bulan penuh. Seperti halnya perayaan hari jadi kota-kota di Indonesia, kemeriahan diwarnai dengan berbagai atribut suku setempat. Dalam hal ini, suku Betawi tentunya. Boneka ondel-ondel, kembang api, kerak telor yang merupakan makanan khas Betawi jadi gampang ditemui. Dan harganya bisa mencapai rekor dua puluh ribu rupiah untuk satu loyang. Dahsyat.

Di kota ini juga Lex mengadu nasibnya. Sekarang, dia dan seorang temannya tengah asik memberikan sumbangsihnya meramaikan suasana ulang tahun Jakarta. Perayaan yang digelar di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat dan dikenang dengan nama Pekan Raya Jakarta (PRJ). Kalau mau tahu, PRJ tahun ini merupakan yang ke-44 diselenggarakan sejak Jakarta ada. Dulu namanya Djakarta Fair, dan diadakan di Monas. Karena antusias masyarakat bertambah kian tahun, PRJ dipindahkan ke daerah Kemayoran pada tahun 1992. Di area yang lebih luas, sekitar 44 hektar. Menurut sumber yang diperoleh Lex dari baca sana sini (red:rajin baca), tahun ini PRJ ditongkrongi 2.600 perusahaan dan digandrungi sebanyak 1.300 stand. Wow..

Perjalanan Lex dan Aga bermula dari sebuah kendaraan umum ber-AC yang menjadi kebanggan salah satu ex Gubernur, diberi nama Trans Jakarta (busway). Merupakan salah satu transportasi darat yang disediakan bagi masyarakat sadar macet dan diberi jalur pribadi di jalanan. Jiwa backpacker tidak pernah lepas dari Lex baik di luar negeri maupun di negaranya sendiri. Kemana mana memanfaatkan fasilitas kendaraan umum yang dipakai beramai ramai. Tentunya dengan tujuan pengiritan. Bersempit sempitan, berdesakan dan bergantungan. Serba salah jadinya. Sampai matanya seperti memandang kunang-kunang yang berterbangan menghampirinya, efek dari keramnya tubuh bergantungan di dalam busway.

Setelah mereka sampai di halte perhentian terdekat, ternyata PRJ belum kelihatan juga. Perjalanan masih harus diteruskan dengan menyewa sebuah kendaraan yang sebenarnya sudah layak dan sepantasnya menjadi koleksi museum Jakarta
. Namanya Bajaj. Kalau dilihat sepintas seperti Tuk tuk yang ada di Thailand tapi versi cebol. Suara mesinnya sangat berisik, guncangannya tidak jauh beda dengan gempa 9 skala richter. Dari kaca spion Lex melihat gumpalan asap yang ditinggalkan Bajaj ini sama dengan asap pembasmi nyamuk yang biasa diadakan Pak RT sekali enam bulan di lingkungan rumahnya. Bergumpal berwarna abu kebiruan dan memberikan efek batuk bagi tiap orang yang dilalui.

Di pintu depan PRJ jalanan ramai ditunggui mobil-mobil yang kehabisan tempat parkir di dalam. Motor-motor juga tidak ketinggalan berdesakan di bahu jalan. Pemandangan yang sering dijumpai di jalanan Jakarta. Hanya sepeda yang tidak memiliki tempat parkiran, mungkin karena masih jarang yang mengandalkannya.
Orang-orang tampak bersemaangat menuju pintu masuk.
Begitu juga dengan Lex dan Aga. Dengan langkah pasti, mereka segera menuju pembelian tiket masuk.
Harga tiket masuk sebesar Rp.25.000 per kepala. Silahkan masuk gratis bagi yang tidak membawa kepalanya. Anak-anak yang tingginya tidak sampai batas garis yang ditentukan panitia bisa ikut masuk gratis beserta mereka yang lupa bawa kepala. Ada juga pintu khusus disediakan untuk tamu undangan, anggota TNI dan manula. Tidak ditulis fasilitas apa yang disediakan bagi mereka. Mungkin saja kesempatan jalan di atas Red carpet dan foto season.

Lex dan Aga berjalan melalui pintu masuk normal dengan menunjukkan tiket dan menyerahkan semacam kartu magnet agar palang pintuk bisa bergerak. Dan mereka pun masuk ke arena PRJ yang memang sangat ramai.
Sejauh mata memandang, pengunjung yang berserakan kelihatan lengkap dari segala usia. Bayi digendong mamanya, balita di dalam kereta dorongnya, ABG digandeng pacarnya, suami ditarik istrinya dan nenek-nenek tersesat bingung.

Kanan-kiri, depan-belakang dipenuhi stand barang dagangan yang bervariasi, ada helm, cemilan, susu balita, batik, rokok dan kebutuhan sehari-hari. Lex dan Aga berjalan menyusuri stand-stand sambil sesekali meraba kantong, takut kecopetan.

Setelah melewati sekitar sepuluh stand, jalan terpisah menjadi dua arah, kiri dan kanan. Mereka memilih jalan dari jalur kiri. Karena di jalur ini banyak SPG cantik berkeliaran menjajahkan dagangannya dengan kostum super seksi. Pemandangan yang tidak mungkin ditolak oleh dua makhluk pejantan tulen berkeliaran tanpa pendamping masing-masing.

Suasana cukup meriah. Lampu warna-warni ramai bergantungan menghiasi setiap stand. Spanduk dan umbul-umbul ditata rapi di tepi jalan. Sayang, tidak ada yang menghiraukannya. Pengunjung lebih menikmati tulisan sale (diskon) dengan jumlah tertinggi daripada capek memperhatikan umbul-umbul.

Konon, PRJ ini diadakan dengan tujuan memajukan produk dalam negeri. Kenyataannya di sini pengunjung berlomba-lomba menyerbu produk impor. Contohnya, di stand pakaian yang bermerek surfing luar negeri lebih membludak pengunjungnya dibanding stand distro-distro asal Bandung.

Tangan mereka sibuk menggali tumpukan pakaian super sale yang diletakkan di dalam keranjang-keranjang besar. Namun mereka tidak sendirian. Puluhan pengunjung tidak kalah sangar berdesakan berebutan di tiap keranjang.
Di setiap keranjang, di sudut ruangan, di gantungan, berdiri penjaga yang matanya mondar-mandir mencari pengunjung yang mencurigakan. Sialnya, salah satu dari mereka berteriak dengan lantang: “hati-hati, perhatikan barang bawaan anda!” sedetik setelah Lex memasuki stand itu. “Sialan, emang tampangku kriminal apa!” batinnya berontak. Kalau diperhatikan, seharusnya Lex yang harus wapada. Tampang penjaga itu gondrong, acak-acakan, hitam dan hidungnya kembang kempis bertanda dia masih hidup.

Setelah menemukan beberapa potong pakaian dengan harga fantastis, sepuluh ribu rupiah, Lex dan Aga memutuskan mengakhiri pertempuran ini. Mereka keluar stand dan melanjutkan mengunjungi stand lainnya.
Di ujung jalan mereka menemukan beberapa permainan anak kecil seperti gondola, kereta gantung, dan arum jeram mini. Antusias anak-anak tidak kalah dengan orang dewasa. Disaat orangtua mereka berpikir stand mana lagi yang akan diborong, mereka juga berpikir wahana permainan apa lagi yang belum ditaklukkan. Semua memiliki target masing-masing. Semua mencari kebahagiaannya masing-masing. Sementara si nenek-nenek tersesat masih bingung mondar-mandir.

Memasuki lebih dalam lagi, Lex dan Aga mulai melihat pintu-pintu hall. Ada 5 hall membentuk setengah lingkaran. Hall A berisi barang-barang furniture, carpet, sofa, lukisan, lampu dan sejenisnya. Hall B banyak dikuasai penjual-penjual kosmetik, garmen, handycraft, Pemda dan BUMN. Pemda dan BUMN mempromosikan program kerjanya serta menjual barang koperasi. Hall C masih didominasi sebagian besar Pemda dan BUMN serta barang-barang komplotannya komputer. Hall D, yang merupakan tempat favorit mereka setelah SPG berkostum super mini, diisi stand perlengkapan yang berhubungan dengan hobi dan elektronik. Sayang hobi yang ditemukan cuma terbatas. Hanya ada sepeda, pecinta alam, musik dan sedikit gadget. Terakhir Hall E dihuni stand barang-barang elektronik seperti TV, jam dan askesoris.

Semua hall sudah dikunjungi, langit mulai gelap. Bintang-bintang bertaburan di langit malam yang cerah. Jumlahnya banyak sekali. Sama seperti pengunjung yang ternyata jumlahnya semakin banyak. Jalanan di luar hall tambah berdesakan seperti lautan manusia. Belum lagi kendaraan wara wiri yang masih semangat mengantar pengunjung-pengunjung lansia berkeliling. Selidik punya selidik, ternyata wara wiri ini disediakan sebanyak empat unit. Setiap unit ditarik semacam mobil pick up dan di belakangnya ditempel tiga gerbong tempat duduk pengunjung. Lex dan Aga sama sekali tidak tertark menaiki kendaraan aneh itu. Justru dimata Lex kendaraan ini sangat merepotkan. Sedang asik jingkrak-jingkrak nonton konser JRocks, wara wiri lewat dengan cueknya membelah gerombolan penonton. Suasana Rock N Roll buyar seketika.

Bukan hanya pertunjukan musik Rock, pengunjung juga ternyata dimanjakan oleh musik RnB. Lex dan Aga memaksakan diri nongkrong di depan, tepatnya di depan bagian bawah. Karena pertunjukannya berada di atap stand sebuah produk pakaian kaula muda. Atraksi yang dipertontonkan adalah modern dance yang diiringi house music dari seorang DJ. Mirip suasana dalam club malam. Penarinya adalah mereka wanita-wanita muda cantik berpakaian ketat alias seksi dengan peluh yang bertetesan dari dagunya. Hot!
Meliuk-liukkan tubuhnya seirama dengan dentuman bass yang keluar dari sound bertenaga super. Pengunjung sampai tak berkedip. Bahkan ada yang tidak sadar mulutnya sampai menganga mirip buaya berjemur. Pria dan wanita sama-sama takjub. Tua-muda, besar-kecil semuanya terhipnotis dengan goyangan nan erotis di atas sana. Malam ini indah..

 

 


  Tikus, makhluk paling bertentangan secara pribadi dengan Lex. Kalo ketemu bawaannya emosi, terus pengen ngajakin ribut. Jangan harap tikus bisa berlenggak-lenggok santai bila berpapasan dengan Lex. Segala macam benda yang bisa dijadikan senjata akan dilayangkan ke tikus tak tau diri itu. Tikus dan lex ibarat kesalahan formasi di rantai makanan. Seperti Tom dan Jery, seperti ulat dan petani, seperti koruptor dan pegawai baru yang idealis, seperti jerawat dan model kecantikan, perang yang tidak imbang sebenarnya..

    Hewan pengerat ini suka berpetualang ke rumah, selokan, kantor sampai ke restoran-restoran ternama. Menjelajahi lorong gelap yang bau dan memakan sampah-sampah busuk yang bergeletakan. Di petualangannya itu mereka mendapatkan pujaan hati dan memutuskan untuk kawin dadakan. Setelah memutuskan membentuk suatu rumah tangga, mereka akan menghuni satu atap gedung untuk melahirkan anak-anaknya. Di situlah si penghuni gedung akan sangat dirugikan dengan suara crit crit yang sangat mengganggu, bekas gigitan di pakaian, makanan di dapur yang berhamburan yang semuanya dilakukan oleh si tikus.
    Pernah beberapa kali si tikus menguji nyali menhuni rumah Lex. Numpang diam-diam di atap rumahnya. Setelah kerugian-kerugian yang tidak bisa ditolerir lagi, akhirnya Lex memutuskan untuk mengumandangkan perang. Lex memburu sarang mereka. Keprimanusiaannya masih melarangnya untuk tidak menggunakan perangkap tikus apalagi racun tikus yang disamarkan di kepala ikan yang biasa jadi umpan.
Lex mempelajari jam terbang tikus di rumahnya. Ternyata mahluk usang itu beroperasi di malam hari sampai subuh hari. Gila, jam kerjanya lumayan lama juga. Suatu malam Lex keluar dan memergoki

beberapa tikus lagi berpesta menghabiskan ikan-ikan di meja. Dengan sigap bak prajurit Romawi, Lex meraih payung di dekatnya dan langsung mengarahkannya ke si tikus. Satu tikus KO seketika.

Yang satunya (mungkin kekasihnya atau selingkuhannya) melompat turun dari meja. Lex mengejarnya dari belakang. Si tikus masuk meyusup ke bawah sofa. “Kupret! pake sembunyi segala. Keluarlah, kita bertarung secara jantan!” seru Lex. “Cit cit..” si tikus membalas. Geram karena hanya dijawab begitu, Lex mengangkat sofa satu per satu. Si tikus dengan kecepatan seperti kilat ikut berpindah ke sofa disampingnya.

Sampai di penghujung sofa, Lex beristirahat sejenak menghapus peluh yang membasahi keningnya. Ingin rasanya dia bisa menikmati minuman kaleng dingin saat itu juga, apa daya tidak ada bekal disiapkan di medan perangnya itu. Lex membenarkan posisi celana tidurnya yang tadi agak sedikit kedodoran. Disisingkannya lengan bajunya, digenggamnya senjata payung erat-erat. Dirinya siap melanjutkan pertempuran.
Sementara di bawah sana, si tikus mulai panik dan kehilangan akal atau karena memang dia tak punya akal. Cit citnya mulai ramai dan terdengar putus asa.
Lex perlahan mengangkat sofa terakhir, matanya tajam fokus mengamati sekitar sofa. Kepalanya ditundukkan untuk mengecek posisi si tikus kurap. Zepp! tiba-tiba si tikus keluar dan Lex langsung mengarahkan ujung payung ke kepala musuhnya. Dam*! Meleset. Lex terus mencoba hingga jurus yang ke delapan akhirnya si tikus dapat ditaklukkan.
    Malam masih gelap, suasana di luar sunyi mencekam, jam menunjukkan pukul 2 pagi. Lex masih berada diantara lawan-lawannya yang telah ditaklukkan. Setelah pertempuran panjang itu Lex sangat lelah tetapi tidak mengantuk. Dibereskannya dua musuhnya seperti tentara Romawi membereskan prajurit pemberontak yang kalah perang. Ada perasaan lega telah mengurangi pemberontak yang menyelinap di atap rumahnya.
Lex berjalan gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan sisa-sia peperangan di tangannya. Alangkah terkejut dia meihat penampakan yang ada di bak kamar mandi. Lex tersentak kaget. Seekor tikus tengah berenang-renang di dalam bak dengan air yang hanya setengah. Luar biasa congkak si tikus yang satu ini. Sebagai pendatang gelap, si tikus tidak berhak sama sekali untuk menjadikan bak mandi sebagai kolam renang. Muka Lex memerah, tangannya dikepal kuat, rahangnya mengeras, matanya tajam menatap tingkah si tikus kurap yang masih asik berenang.
Dibukanya keran bak untuk mengurangi air hingga kurang dari seperempat isinya. Entah strategi apa lagi yang hendak dijalankannya. Si tikus tersadar akan hadirnya Lex di situ dan mulai merasa terusik. Digapainya pinggiran bak untuk naik ke permukaan. Beberapa kali gagal naik dan tergelincir jatuh lagi ke dalam air. Si tikus sadar tidak mungkin dia bisa mencapai atas bak untuk keluar kolam renangnya. Suara cit citt.. kembali terdengar.
Lex kembali dengan pembersih lantai di tangannya. Pembersih lantai yang diperuntukkan untuk menghilangkan karat dan wajib dijauhkan dari jangkauan anak-anak. Dituangkannya dengan pasti ke dalam bak untuk membersihkan dari penyakit-penyakit yang ditinggalkan si tikus. Karena tidak sudi bersentuhan dengan musuh perangnya, Lex membiarkan si tikus tetap menikmati kolam renangnya dengan air yang telah berubah menjadi warna biru, berbau dan berasap.Hii..
    Keesokan harinya, di kantor, Lex menemukan perangkap tikus yang dipasang temannya berhasil memenjarakan satu tikus kurap. Tikus sombong itu mengeluarkan nada cit citt-nya seperti menyanyikan suatu lagu R n B. Pasrah pada situasi dan kenyataan yang akan menimpanya. Banyak kerugian dan kejengkelan yang dibuat si tikus ini. Arsip kantor yang bersobekan, jejak kaki kotor dan bau di meja-meja, tempat sampah yang diacak-acak, bangkai ikan berserakan di lantai sampai sepatu teman yang bolong digigitin.
Teman-teman kantor Lex berdiskusi sebentar memutuskan hukuman apa yang terkena untuk kejahatan si tikus. Setelah diputuskan, si tikus meratapi hukumannya di balik rajutan jeruji besi dengan masih menunjukkan tatapan sombongnya.
    Dua hari setelah penangkapan, di kamar mandi kantor Lex mengeluarkan bau busuk. Bau yang lebih parah dari bau kuburan. Tajam, menyengat masuk paksa ke hidung sampai menimbulkan efek pusing seketika. Menjijikkan. Ada apa gerangan? Mungkinkah ipar si tikus balas dendam? “Tidak mungkin!” jawab Lex. Tiga hari bau itu menguasai oksigen di kamar mandi. Oksigen disandera dan digantikan bau busuk yang semakin pekat dan kuat. Tidak ada yang nekat untuk buang hajat di kamar mandi itu lagi. Untuk manusia normal, tidak tahan berlama-lama berada di situ. Untuk buang air kecil aja, penghuni kantor harus cepat-cepat memaksakannya agar segera keluar. Sampai yang kaum hawa sesekali tidak sempat membenarkan posisi roknya. Dam*!
Hari keempat, salah satu teman kantor Lex menemukan sosok aneh yang nyembul sedikit di atap kamar mandi, tepatnya di atas bak. Terlihat seperti akar pohon kecil, berwarna hitam tapi kok berbulu. Diamati dengan benar ternyata bangkai tikus! Ekornya nyempil keluar. Sudah mulai kering tapi masih mengeluarkan lendir keputihan yang menjijikkan. Huoeeks..

Setelah dikeluarkan, ternyata ada dua tikus mati yang lengket di kakinya. Aneh. Sungguh aneh. Bagaimana tikus-tikus itu bisa berada di situ. Oke, pertanyaan itu mungkin masih bisa dijawab mengingat tingkah tikus yang super lincah. Tapi kenapa bisa mati dua-duaan? Kenapa memutuskan mati di situ? sungguh tidak romantis. Apa alasan si tikus mengakhiri hidup sedemikian rupa? Apakah mereka saling kenal, atau sudah melakukan hubungan? Apakah keluarganya setuju? Apakah mereka sudah menemukan arti dari petualangan mereka? Huft..


    Kemampuan menggunakan bahasa asing menjadi nilai plus bagi seseorang di era globalisasi sekarang ini. Menguasai lebih dari satu bahasa ibarat memiliki tiket emas membuka diri mengenal isi dunia lebih dekat. Terutama bagi mereka yang suka berpetualang menjelajahi negeri-negeri di luar sana.

 
    Lex, seorang dari keturunan Indonesia asli tanpa ada campuran darah asing sedikitpun dari silsilah keluarganya, hanya bisa menggunakan satu bahasa asing, Inggris. Perbendaharaan kata Inggris yang ada di memorinya tidak banyak. Kemampuannya merangkai kata demi kata menjadi satu kalimat yang susah dimengerti, tidak jelas posisi diterangkan dan menerangkan. Penempatan ‘to be‘ yang tidak wajar, bahkan sering ditemui beberapa ‘to be‘ yang ganjil dan berlebihan dalam satu kalimat.
 
    Bila mendapat amanat untuk merangkai sebuah cerita menggunakan bahasa Inggris, sebisa mungkin Lex akan menolaknya. Pernah suatu ketika, Lex melamar program beasiswa master ke Australia. Salah satu persyaratan yang diminta, membuat karangan singkat mengenai motivasi melamar beasiswa tersebut, tentu saja dengan bahasa Inggris. Tidak ada alasan untuk menolak atau bernegosiasi. Lex lemah tak berdaya. Dia mulai merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat hingga

seminggu tak kunjung selesai.  Sampai akhirnya batas akhir penyerahan persyaratan, Lex masih kurang 50 kata lagi. Sungguh memalukan.
 
    Banyak usaha yang dilakukannya untuk dapat menguasai bahasa standar Internasional ini. Sejak kecil Lex sudah mengikuti khursus. Dimana masa-masa harusnya Lex menikmati waktu bermain, dia malah sibuk belajar rumus past tense di tempat khursusnya. Pernah juga dia mengikuti khursus bahasa Inggris terbaik se Indonesia ketika usia remaja. Tetap saja dia merasa skill yang dimilikinya masih kurang. Sempat terpikir akan mengencani cewek bule yang tinggal di sebrang kompleksnya demi menaklukkan tak lain dan tak bukan, bahasa Inggris.
 
    Banyak asal muasal susahnya dia belajar bahasa Inggris ditelusuri sampai memunculkan alasan sendiri yang tidak masuk akal. Seperti, faktor bakat. Dia merasa tidak memiliki bakat menguasai bahasa Inggris. Padahal di India, sebodoh bodohnya orang atau serendah rendahnya IQ dan bakatnya, tetap dapat dengan mudah menguasai English. Atau mungkin karena tidak memiliki keturunan bule, atau tidak pernah terpilih program tukar pelajar ke luar negeri, atau mungkin karena tampangnya tidak mirip bule sama sekali.
 
    Sekarang, di umur yang tidak remaja lagi, kemampuan bahasa Inggrisnya tidak berubah. Masih pas pasan. Meski teman-temannya dari berbagai negara mulai bertambah. Teman satu tim Baseball nya berkebangsaan Australia. Sering jalan kaki pulang bersama sehabis latihan. Berbincang dan bercanda menggunakan bahasa Inggris, tapi tetap saja Lex masih dilengkapi bantuan andalannya, bahasa tubuh.
Berkirim kirim email dan chating dengan temannya di Kamboja. Lex terpaksa harus menggunakan bantuan lain, bukan seperti biasanya bahasa tubuh. Kenapa? Tentu karena tidak mungkin dapat dilihat di email. Bantuan itu berupa inovasi teknologi yang hebat. Kamus online. Mengetik kata bahasa Indonesia, diterjemahkan langsung ke bahasa Inggris dalam hitungan detik. Kembali disusun semaunya menjadi kalimat Inggris yang ternyata hampir Inggris. Berantakan.
 
    Pengalamannya travelling ke luar negeri baru sebatas wilayah Asia. Dimana kemampuan berbahasa Inggris sebagian besar penduduknya juga separah Lex. Bedanya, mereka jarang menggunakan bahasa tubuh. Lucu. Penduduk lokal itu merasa English nya sudah baik dan benar, mungkin baik jika lawan bicara adalah orang Amerika atau Inggris. Bule-bule dapat memaklumi dan dapat memahami maksud pembicaraannya. Sedngkan Lex, semakin bingung dan semakin ragu akan kemampuannya sendiri. Lex dan lawan bicaranya terlihat komat kamit gak nyambung dan otaknya akan berfikir keras apa maunya si penduduk lokal ini. Salah kaprah, bisa merugikan diri sendiri. Seperti kalau menjelaskan petunjuk jalan, menjelaskan suatu obyek wisata. Salah-salah bisa nyasar.
 
    Hebatnya penduduk lokal di daerah wisata negara-negara Asia banyak yang belajar bahasa Inggris di usia yang tidak muda (tua). Pemerintah setempat turut membantu usaha mereka. Ketika waktu menikmati Thai massage di hatyai, lex mendapat informasi dari sang tukang pijat kalau mereka diberi khursus gratis. Pemerintah setempat memberikan pelatihan singkat khursus bahasa Inggris, walau hanya sebatas yang sering diucapkan saja. seperti bagaimana menunjukkan arah jalan, cara menawarkan harga barang dagangan, bagaimana menjelaskan obyek wisata, menjelaskan sejarah suatu tempat dan sejenisnya. Kenyataannya, kemampuan mereka malah meningkat seiring seringnya berbicara dengan wisatawan. Dapat diamati dari lancarnya menerangkan arah jalan dan sangat sulit menjelaskan keadaan keluarganya sendiri.
 
    Meski kemampuan bahasa Inggris Lex tidak sehebat pemandu wisata atau backpacker pada umumnya, dia tidak pernah minder atau takut berpetualang. Banyak negara di dunia ini yang sudah direncanakannya akan dikunjungi. Banyak juga teman yang didapatnya selama melakukan travelling. Di Krabi Island, Lex mendapat seorang teman wanita muda, cantik, sexy, berkarir, jomblo dan tinggal di Inggris. Salah satu teman yang meninggalkan kesan tersendiri bagi petualangannya.