Almost Died in Sand Dunes 3

vietnam

“Saya sendiri, tapi gak kesepian”

Dengan mantab tapi ramah, Lex sering mengucapkan kata-kata ajaib itu kepada setiap orang yang penasaran dengan penampakannya. Kalau di BBM, mungkin dia akan menambahkan emotion smile dibelakangnya πŸ™‚

Solo backpacker sudah dibulatkan menjadi gaya baru dalam perjalanannya. Siap dengan segala resiko atau justru kenikmatan yang luar biasa yang menunggu di depan sana.

Seperti ketika Lex bertandang ke White and Yellow Sand Dunes di Muine, Vietnam. Sendiri, benar-benar sendiri.

Subuh, tepat jam 01.15 waktu setempat, Lex diturunkan di tepi jalan yang sunyi, senyap. Tempat pemberhentian yang dimintanya sendiri entah atas dasar apa. Menaiki bus SinhTourist yang bagus dan bersih dengan membayar 200.000 VND untuk Ho Chi Minh ke Muine. *sleeping bus mode On πŸ˜€ Mantabs..

Kota kecil yang terlihat seperti kampung di Sumatera ini sepi, tapi beberapa bar masih memamerkan kerlap kerlip lampunya. Beberapa mang ojek masih berkeliaran mencari bule-bule mabok yang butuh angkutan balik ke penginapan.

Dengan bantuan si mang ojek, Lex menemukan guest house yang murah meriah. Hanya $8/night. Uda ada TV cabelnya, AC-nya dingin, kamar mandi dalam dan bersih, brankas kecil, kulkas mini, lemari pakaian, dll. Andaikan di Indonesia masih ada yang seperti ini..

**

Beberapa jam kemudian, tepat pukul 05.00 waktu setempat, lokasi: depan kamar Lex..

“Tok tok tok” pintu diketuk 3 kali
“Dor dor dor!” ketukannya tambah kencang
“DWAR DWAR DWAR!!” semakin kencang sampai pintunya bergetar-getar.

Kontan Lex langsung lompat dari tempat tidur menuju pintu sambil menenteng kulkas berencana menimpuk si penggedor sadis di depan pintu. Setelah dibuka, ternyata si mang ojek tadi.
“Ni mang ojek robot apa vampir, jam segini uda muncul aja..”, gumamnya dalam hati.
Dia menawarkan jasa local guide ke beberapa tempat yang katanya high recomended selama seharian. Harga pembuka si mang ojek sebesar $17. Setelah ditawar, dipaksa, ditodong, dicambuk dan didera, akhirnya sepakat $7. Niat nimpuk pun batal.

Setelah bergegas, Lex diantar mang ojek berkeliling. Salah satunya menuju yellow sand dunes.
Sebelum menuju TKP, Lex menawarkan makan siang ke mang ojek. Mereka makan di salah satu rumah makan yang berjejer di seberang TKP (yellow sand dunes). Dan dia pesan ayam bakar, sedang Lex telor ceplok. WTH..

Si mang ojek sangat senang ditraktir dan berfikir ternyata orang Indonesia itu baik, ramah dan loyal. Sedang Lex berfikir, ternyata si mang ojek ini diam-diam kejam,cuek dan tak tahu malu πŸ˜€

Lex bergegas menuju hamparan yellow sand dunes. Beberapa ABG, tapi rata-rata lebih tinggi dari Lex menawarkan jasa penyewaan alat seluncuran. Mereka kurus, berambut pirang dan berkulit hitam terbakar matahari. Seperti anak jalanan yang banyak kita temukan di Indonesia. Bedanya, mereka fasih berbahasa Inggris.
Mereka menanyakan, dari negara mana, pekerjaan, usia, status berkeluarga dan berapa lama di Vietnam, untuk suatu strategi yang mereka diskusikan dengan bahasa Vietnam.
Alat seluncuran yang ditawarkan tadi, hanya berupa semacam triplek plastik dan lentur. Lebarnya sekitar 1/2 meter dan panjang sekitar 2 meter. Di kedua ujung kanan kiri diberi ikatan tali yang berfungsi sebagai pegangan. Harga awal penyewaan sepuasnya beserta panduan dari mereka sebesar $5, harga mati dari Lex sebesar $1 dan DEAL.

Di spot pertama, seluncurannya tidak terlalu curam. Tapi panasnya tidak tanggung. Panas, sungguh panas, kawan. Seluruh kulit seperti melepuh dan telapak kaki merah matang ditelan padang pasir ketika berjalan. Hebatnya, mereka berlima tidak menggunakan alas kaki sama sekali. Nafas Lex sudah setengah-setengah. Apalagi ketika naik ke atas setelah berseluncur ke bawah. Menanjak di pasir panas yang menenggelamkan kaki, membuat langkah semakin berat. Panasnya matahari, pasir dan suhu di tempat ini bisa membunuh secara perlahan.

Ketika Lex berseluncur ke bawah, mereka tinggal di atas memegangi tas kecil Lex yang berisi jaket. Sedangkan dompet dan handphone dikantonginya sendiri. Dengan alasan kebersihan dan kenyamanan berseluncur, Lex percaya menitipkan tas berisi jaketnya itu ke mereka. Merka memiliki tugas masing-masing yang dibagi oleh mereka dengan bahasa Vietnam. Dan ternyata tugas-tugas itu adalah, satu sebagai juru foto, satu pemandu berseluncur, satu pengarah gaya seluncur dan dua lagi berperan sebagai penitipan barang. Lex kagum dengan profesionalisme mereka. Hasil jepretannya pun luar biasa, “like a pro” kata orang sok bule di Jakarta.
Si juru foto bisa mendapatkan jumping photo dengan kamera handphone dan pocket camera milik Lex. Awesome.
Sedangkan si penata gaya seluncur, dengan lihainya mengarahkan posisi tangan, badan hingga kaki di alat seluncuran untuk mendapatkan tenaga luncur yang besar.

Ketika di spot yang kedua, Lex mulai curiga. Turunannya semakin curam dan hampir mustahil untuk dinaiki lagi dengan berjalan kaki. Nafas Lex sudah semakin tidak karuan, persediaan air minum juga sudah minim. Lex melihat sekitar, permukiman sudah semakin jauh dan tidak ada siapa-siapa di situ selain mereka. Insting backpackernya muncul. Jika remaja-remaja ini melakukan tindakan kriminal di sini kepada Lex, kemungkinanya dia tidak akan selamat. Dikantongnya cuma ada handphone dan dompet. Tidak ada alat untuk membela diri selain hamparan pasir kuning yang sangat panas. Apa yang harus dilakukannya?

Lex mulai melakukan strategi pendekatan. Mulai dengan istirahat sebentar sambil memuji hasil jepretan mereka, membanggakan usaha mereka mencari uang, memuji keprofesionalismean mereka, menanyakan keluarganya, sekolahnya dan prestasi-prestasi yang pernah mereka raih. Sambil mengumpulkan sedikit tenaga.

Setelah agak pulih, mereka menawarkan segera meluncur. Si ABG yang memiliki tugas sebagai penitipan barang, menawarkan menitipkan dompet dan handphone Lex kepadanya sampai beberapa kali. Dasar ABG, niat liciknya gampang terdeteksi. Ketika pada posisi seluncur, kantong tempat menyimpan dompet dan handphone diraba-raba si pengarah gaya. Lex dongkol dan panik. Ini sudah mulai brutal, pikirnya. Dengan tenang, Lex selalu berusaha memegang kantong dompet dan handphonenya. Dengan posisi telungkup pada alat seluncuran, sambil memegangi kedua kantong celananya, Lex sudah bersiap berdiri dan melakukan perlawanan sebisa mungkin jika mereka lebih brutal lagi dan memaksa. Walaupun harapan untuk menang sangat kecil. Lex berdoa di dalam hatinya meminta bantuan Tuhan agar menyelamatkannya dari mara bahaya ini.

Dengan cepat, Lex langsung meluncur ke bawah agar ABG nakal ini tidak lebih berbuat nekat. Karena tangannya memegang kedua kantong celana tempat dompet dan handphone, keseimbangannya hilang dan Lex jadi terguling-guling ke bawah, tidak dengan alat seluncuran. Dan yang terjadi selanjutnya, kawan, Lex hampir pingsan atau mungkin hampir mati karena tersedak pasir panas yang menyelimuti seluruh tubuhnya.

Dengan sisa-sisa tenaga dan nafas yang masih bisa dihirup bercampur pasir, Lex menoleh ke atas ke tempat para ABG nakal tadi. Mereka tidak ada. Sepi. Hanya ada pasir ditiup angin dan matahari yang kelihatan sangat dekat dan sangat panas. Semoga tidak ada burung pemakan bangkai.
Lex terlentang di atas padang pasir, yang harusnya obyek wisata nan elok. Dia pasrah. Pasrah kepada tasnya yang mungkin sudah dibawa kabur beserta jaket di dalamnya. Tapi bukan pasrah pada kematian. Terlintas kenangan-kenangan masa kecilnya, masa-masa suka duka kuliah di Jogja, rasa bahagia pertama kali menginjakkan kaki di luar negeri. Mungkin ini rasanya mendekati kematian, almost died.
Dirabanya kantong berisi dompet dan handphonenya. Masih ada. Pikirannya pun masih berfungsi dengan baik. Setidaknya dia masih bisa menelepon panggilan darurat atau mang ojek yang menunggunya di warung makan.

Samar-samar di dengarnya suara bercakap-cakap dengan bahasa Vietnam. Dia bangkit berdiri dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Muncul lima orang kurus di atas, tempat dia mulai meluncur tadi. Merka berteriak “hey!!! are you alright??”
Ternyata lima remaja nakal tadi. Lex waspada. Trik apa lagi yang dilancarkan mereka ini. Lex berteriak agar mereka membantunya naik. Dengan asumsi, kalau mereka mau berarti masih ada niat baik. Karena akan susah untuk membantuku naik ke atas dengan medan seperti ini, pikirnya. Dan niat baik itu akan dimanfaatkan Lex agar mereka berempati kepadanya.
Benar saja, si juru foto turun membantu Lex naik ke atas. Mungkin, mereka tidak mendapat barang berharga atau uang di tas Lex sehingga mereka merencanakan usaha lain.

Dengan trik psikologi anak dan psikologi manusia, Lex berhasil meyakinkan mereka agar semua permasalahan dan solusi yang terbaik untuk mereka akan mereka rundingkan nanti setelah mereka sampai ke warung tempat mang ojek menunggu. Sebenarnya Lex mencari peluang aman, dimana dia bisa mendapatkan bantuan ketika dia membutuhkannya. Tubuhnya lemah, tapi otaknya cemerlang. Bodohnya para ABG, menuruti apa yang dikatakan oleh Lex. Padahal mereka selalu ngotot meminta bayaran dan bahkan telah membuat sendal Lex yang dititipkan rusak, talinya putus.
Sesampainya di warung, Lex menceritakan semuanya kepada mang ojek dan pemilik warung. Para ABG nakal itu dimarahi, dan diancam akan dilaporkan ke polisi. Herannya, mereka masih saja menuntut bayaran lebih ke Lex. Sambil bangkit berdiri dan mengangkat bangku hendak melemparkan ke para ABG nakal, Lex marah sambil mengumpat “@#*^$$#!@@#$$^&^^***%$##@” ala rapper Hollywood.
Mereka takut juga, dan kabur. Lex pura-pura mengejar sambil mengarahkan kamera ke arah mereka untuk dilaporkan ke polisi. Mereka lari terbirit-birit.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

3 thoughts on “Almost Died in Sand Dunes