A Part to Phi phi

james bond island

    Sudah 2 hari, Lex dan dua travel partners-nya berada di negeri nan exotix Thailand. Hari ini mereka berencana melakukan perjalanan backpacker ke Phi Phi Island yang pernah menjadi tempat syuting film The Beach yang terkenal itu. 


Seperti yang sudah mereka ketahui, untuk mencapai pulau itu mau tak mau harus naik kapal dari pelabuhan di dekat Phuket Town. Dan mereka harus menyewa taksi dari penginapan.
Sedikit cerita keunikan penginapan murah meriah ini adalah lantai dasarnya (lobi). Biasanya di kebanyakan penginapan pariwisata terdapat lobi di lantai dasar, yang dipenuhi perabotan modern atau cenderamata khas daerah itu. Di penginapan ini, lobi di lantai dasar dipenuhi barang-barang antik. Dari koper-koper udik, senjata api jadul, koleksi foto tempoe doloe, sampai rumah telepon umum klasik nan unik. Lebih layak kalau lobi itu disebut sebagai museum. Selidik punya selidik, ternyata semua barang-barang nostalgia itu adalah koleksi pribadi si pemilik penginapan yang dari tampang terlihat seperti pria asia tak berseni.



    Taksipun di dapat ketika ketiganya sedang berjalan tak tentu arah keluar dari penginapan. Hebatnya taksi dadakan di Thailand. Sebuah mobil Honda Jazz, masih terlihat mulus luar dalam. Pemiliknya seorang Bapak paruh baya yang hobi memberikan informasi meski tak dibutuhkan. Bahasa Inggrisnya lumayan, tidak sebanding dengan keahlian cara membawa mobilnya. Bapak ini seolah dirasuki setan tour guide. Penjelasannya lengkap dengan alternatif dan solusi terbaik untuk Alex cs. Ketiga sekawan terlihat ragu dan penasaran bercampur aduk yang sering terlihat dari saling pandang heran ketiganya. Sampai Alex sadar tingkah aneh si Bapak yang selalu grogi nyetirnya waktu menjelaskan secara detail suatu hal. Sampai suatu kali Beliau meminggirkan mobilnya demi menjelaskan paket kapal yang sudah termasuk antar jemput ke penginapan. Jelas saja fenomena ini menghabiskan cukup waktu yang berakibat fatal ketinggalan kapal ke Phi phi Island.
Setelah tiga sekawan sepakat untuk tidak lagi meminta info ke si Bapak sampai ke pelabuhan, perjalanan lancar. Tentu saja mereka menggunakan bahasa Ibu pertiwi agar driver kondang itu tidak terusik batinnya. 


    Sesampainya di pelabuhan, beruntungnya mereka kapal masih banyak berbaris. Sungguh indah pemandangan di situ. Bangunan pelabuhannya sama seperti kebanyakan pelabuhan di Indonesia. Tapi silahkan perhatikan lingkungannya, bersih bebas sampah makanan ringan dan sejenis, tidak tercium bau toilet, dan mobil-mobil travel yang parkir semuanya layak pakai dan keluaran terbaru. Toko klontongannya juga berkelas, hot dog, burger, tom yang berbaris rapi. Sejauh mata memandang juga dipenuhi bule rambut pirang yang lalu lalang tak tahu sibuk apa. Para travel banyak membuka stand penjualan tiket. Penjaganya tidak ada yang enak dipandang. Mungkin lagi high season, berdandan dekil pun pasti tetap banyak yang mau datang membeli tiket.
Penjual-penjual ini tidak ramah sama sekali. Susah mendapatkan senyum di wajah mereka, yang semuanya kelihatan mirip. Sampai ada satu bule kumal (backpacker sejati) yang mencak mencak berkata “you are good man!” kepada seorang agen laki-laki tampang cuek. Ternyata si bule kumal itu dicuekin ketika bertanya lebih rinci mengenai paket yang ditawarkan. Sebabnya, si penjual tiket di datengi bule cewe muda, cantik. Kontan si bule kumal kabur sembari komat kamit tidak jelas.
Alex yang sibuk mengamati bule-bule terkeh kekeh melihat pemandangan lucu itu. Kedua temannya tahu sebenarnya Alex juga tadinya sedang memperhatikan bule muda cantik itu. Begitu sampai tadi, urusan pembelian tiket diserahkan kepada salah satu teman travelingnya yang pemberani. Sementara dia sibuk mempelajari keindahan ciptaan Tuhan berupa paras cantik dari berbagai belahan dunia. Sesekali senyum pun tersungging di bibirnya ketika bule cantik di ujung sana membalas tatapannya. 
    
    Di pelabuhan ada pengkelasan berdasarkan kwalitas kapal dan tentu saja harga. Kira-kira ada tiga kelas kapal dan ketiganya berbaris dari kiri ke kanan sepanjang pinggir pantai. Paling kiri itu semacam kelas ekonomi, yang menggunakan kapal kecil dan dihuni sebagian besar backpaker terutama berambut pirang. Di sebelah kanannya bertengger beberapa kapal kelas bisnis. Kapalnya lumayan bagus, bertingkat dan kebanyakan bewarna putih. Kapal-kapal ini layak disebut kapal pesiar. Dari segi harga, dapat dipastikan lebih mahal dari kelas ekonomi tadi. Para penghuninya pun banyak diisi keluarga bule yang benar-benar dalam bentuk keluarga. Kenapa begitu, karena di kapal itu dapat dilihat ada beberapa anak kecil, remaja, orang tua sampai manula. Dan yang terakhir, persis di sebelah kanannya berbaris beberapa kapal yang cukup bagus dari penampilannya. Bertingkat, diberi snack dan kopi saat pertama naik, ruangan di lantai dasar pakai AC serta dipenuhi bule-bule bentuk keluarga dan beberapa ABG berisik. Dari semua penghuni kapal sangat sedikit bisa dilihat orang asia. Dan dari secuil orang asia itu, terdapatlah tiga manusia asia dengan penampilan santai bak turis Eropa. Mereka adalah Lex dan kedua temannya.


Mengapa mereka bisa nangkring di kapal yang tidak seharusnya mereka berada di situ hanya mereka dan si sopir taksi yang tahu. Dengan muka yang sumringah luar biasa, snack dan kopi telah berhasil didapatkan. Betapa bahagia hati mereka. Bisa menikmati sarapan di negeri nan jauh, di dampingi turis-turis rambut pirang, di atas kapal pesiar yang di Negeri mereka saja belum tentu pernah melihatnya.

Matahari mulai berkuasa menghamburkan sinarnya menimpa ketiga wisatawan asal Indonesia itu. Canda tawa menghiasi percakapan ketiganya di atap kapal seolah bule yang sangat merindukan panas matahari. Sesekali terlihat mereka sibuk memasang kuda-kuda mata mencari bule sesuai dengan seleranya masing-masing. Lex, sebagai pria satu-satunya dari ketiga sekawan itu hanya bisa berkomentar sendiri tentang kecantikan bule yang dilihatnya.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*