A Journey to Toba Dream

Toba Road

    Untuk memperluas wawasan traveling, Lex kali ini melakukan perjalanan masih di dalam negeri sendiri, Indonesia. Tepatnya ke Sumatera utara. Dengan harapan dapat menikmati panorama alam, budaya, lagenda dan tentunya dengan harga yang minim. Mengingat kembali pengetahuan yang diperolehnya di pelajaran Geografi sewaktu sekolah, Sumatera Utara memiliki kekayaan alam yang eksotis dengan perbukitan hijau, udara yang sejuk serta danau yang terkenal ke seantero dunia. Danau Toba.
    Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Bandara Polonia, Medan. Sesampainya di bandara Lex langsung mencari kendaraan menuju Danau Toba. Susasana di Polonia mulai terasa berbeda dibanding Soekarno Hatta. Gaya bahasa Melayu yang mendayu-dayu diwarnai gaya bahasa Batak yang tegas dan lugas. Kata-kata yang diucapkan seolah bernyanyi dan bereriak sekaligus. Lex seperti mendengar bunyi paduan suara amatir yang jarang latihan. Untuk orang yang belum biasa pastilah akan terkejut mendengarkan mereka berbicara. Seperti berkelahi.
    Di Medan ini, masyarakat dominan yang dapat di lihat di sepanjang jalan adalah Melayu, Batak, India dan China. Perpaduan yang cukup unik, mengingat karakter yang sangat berbeda satu sama lain. Sekali lagi terbukti, perbedaan adalah pemersatu. Berbeda dari penampilan, bentuk muka dan cara berpakaian tanpa disadari membentuk fenomena yang berwarna, lucu dan mengharukan sekaligus.
    Sekitar tiga jam perjalanan dari Medan, Lex singgah di Kota yang dingin, sejuk dan sepertinya sepi dibandingkan Kota Medan. Kota itu bernama Pematang Siantar. Sungguh menarik kota yang terlihat setengah matang ini.
Sepanjang jalan bangunan rumah bervariasi. Satu rumah bangunan beton, berpagar besi warna merah, dihiasi bunga-bunga cantik di pekarangan depannya dan seirama dengan pagar besi yang seperti tralis penjara. Persis disebelahnya berbaris beberapa rumah dengan atap seng aluminium hitam karatan, ditopang dengan kayu-kayu tua keropos yang menjadi bahan utama rumah itu. Tidak berpagar dan tidak juga meiliki pot bunga satupun. Memprihatinkan.
Sekitar rumah-rumah banyak pohon besar memberikan keteduhan tidak pandang bulu kepada rumah beton dan kayu keropos. Pohon-pohon berjejer di sepanjang jalan tidak ada keraguan tumbuh dimanapun ada lahan kosong. Jenisnya pun beragam. Pohon kelapa ditemani pohon jambu, palm, alpukat dan dipagari tebu. Alami dan mempesona.
    Posisi kota ini sangat strategis. Untuk menuju obyek-obyek wisata seperti Danau Toba, Salib Kasih, Taman Iman, Pantai Nias harus melewati kota ini dari Bandara Polonia Medan. Selain itu, diketahui bahwa daerah pengapitnya juga penghasil kekayaan alam komoditi ekspor. Yaitu Kabupaten Simalungun yang terkenal dengan Karet, Teh, Sawit dan hasil pertanian. Batasan wilayah kota ini dari semua penjuru mata angin diapit oleh Kabupaten Simalungun ini. Hasil bumi yang berlimpah dari Kabupaten Simalungun, diperdagangkan di Kota Siantar ini. Inilah yang menjadi sebab kegiatan ekonominya berperan besar di sektor perdagangan. Lex menemukan salah satu obyek wisata yang non touristic di kota ini adalah kegiatan dagang subuh hari yang dapat disaksikan dari pasar Parluasan sampai ke terminal bis Parluasan.
Bahkan pemandangan pasar wisata di Hatyai (perbatasan Malaysia-Thailand) tidak berarti dibandingkan suasana pasar pagi ini. Dingin, ramai dan penuh perjuangan.
Sungguh elok bukan main keramaian itu. Pembeli datang dari penjuru daerah sekitar Kota, begitu juga dengan pembelinya. Penduduk lokal sebagian besar mengambil peranan sebagai penyalur sekaligus tuan rumah bagi pembeli. Sangat pintar. Kuli-kuli berbadan besar terlihat mondar-mandir dengan memanggul keranjang dari satu truk ke truk lain atau ke kios-kios. Kiosnya juga unik, hanya dengan menggelar terpal biru kemudian mencecerkan semua dagangan di atasnya dilindungi semacam payung besar berkerangka bambu.
Penjual dan pembeli berteriak-teriak lantang. “mana barangku ito?!!, uda kau turunkan dari muka sana!” (muka artinya depan, bukan muka=wajah)
Penjual-penjual gagah perkasa menenteng keranjang besar-besar, keringat sebesar jagung bercucuran, tidak sarapan, sebagian menggendong anak di punggung, kulitnya hitam, rambutnya keriting acak-acakan dan mereka adalah perempuan. Ibu dari anak-anak yang harus diberi makan. Suku Batak memiliki semangat juang yang sulit ditandingi. Tidak heran putra putri Batak Kota Siantar banyak menduduki bangku perkuliahan Universitas ternama di Indonesia. Mereka hebat.
    Matahari mulai melayang, sinarnya cerah kekuningan mewarnai langit jingga muncul dari perbukitan ditemani udara pagi yang masih dingin dan sejuk. Seperti lukisan sang maestro, perbukitan di sebelah timur sungguh Indah, hijau dan bahagia. Pasar mulai sepi dan Lex serta seorang temannya kembali melanjutkan perjalanan menuju Danau Toba.

    Masih tetap ala backpacker, mereka menaiki bus tujuan Kota Parapat Danau Toba dengan harga ongkos yang paling murah. Busnya sungguh memprihatinkan. Kaca samping tidak lengkap, ada yang diganti dengan pelastik transparan. Bangkunya sama sekali tidak empuk padahal berbusa. Ada penumpang bawa ayam di kolong tempat duduknya.Tapi penumpangnya tidak senasib dengan busnya, banyak cewek muda berdandan bersih, putih, harum tidak tahu atas pemikiran apa naik bus omprengan ini. Awalnya Lex dan temannya harus berdiri karena tidak kebagian tempat duduk kosong. Tapi setelah jalan setengah jam ada rombongan penumpang turun dan mereka bisa duduk sedikit bahagia.

    Perjalanan menuju danau Toba tidak kalah menarik seperti menuju Siantar. Kali ini kanan kiri dipenuhi pohon cemara tinggi gagah menantang langit. Jaraknya beraturan satu sama lain seperti ditanam petani handal, kenyataannya tumbuh semaunya layaknya hutan. Seperti lorong-lorong istana bila berhenti sebentar memandang jauh ke dalam hutan. Pohon-pohon itu berbaris rapi seperti pasukan pengibar bendera. Tenang, rimbun, hijau, sungguh ciptaan alam yang menakjubkan dan wajib dikunjungi bagi insan pecinta alam.
Jalan lurus, sesekali berbelok dan ditemani rumah-rumah sederhana penduduk khas Batak. Mendekati Danau Toba jalan mulai berbelok, beberapa belokan biasa, sampai beberapa dilewati belokan mendekati sudut tiga puluh derajat. Diantara pepohonan yang lebat, berdiri beberapa rumah yang sekaligus sebagai warung makan, ada juga lapo, semacam warung kopi di daerah melayu. Disampingnya bertengger truk-truk yang mampir untuk beristirahat atau sekedar nongkrong.
Setelah melewati tikungan yang cukup tajam, tiba-tiba jalan sedikit kelabu ditutupi pepohonan yang semakin banyak dan semakin tinggi. Perbukitan naik turun di bagian jalan sebelah kiri menutupi pepohonan yang tadi berbaris rapi. Tumpukan tanah tinggi berwarna kuning kecoklatan dan diduduki pepohonan yang lebih kecil dari yang banyak dilewati sebelumnya. Lewat satu tikungan ringan tampaklah dengan luas dan megah Danau Toba nan eksotis.

Matahari yang menantang dari perbukitan pinggir danau menyilaukan mata dan menyirami permukaan danau dengan warna cerahnya. Membuat danau tampak biru kehijauan dengan gradasinya seakan menghipnotis mata untuk berhenti berkedip. Menakjubkan. Di ujung mata memandang terlihat perbukitan yang mengelilingi Danau, samar ditutupi kabut. Sebagian kecil Pulau Samosir yang berada di tengah danau mengintip di balik bukit tidak mau tertinggal dari perhatian orang.

Panorama ini seperti telah lama disembunyikan alam untuk dipersembahkan sebagai hadiah istimewa bagi Lex dan temannya. Mereka sungguh terkesan. Jalan raya menyusuri tebing pinggir danau. Seakan berjalan di pinggir jurang dalam yang dasarnya adalah Danau Toba. Pepohonan tumbuh menuruni jurang sampai ke bawah di pinggiran Danau. Kanan kiri jalan mulai banyak melewati penginapan dan rumah makan. Dan perut mereka pun keroncongan.

    Sesampainya di pintu gerbang Danau, mereka merasakan suasana seperti di kota biasa. Nuansa pariwisata kurang menarik perhatian. Tidak ada patung-patung selamat datang seperti memasuki kawasan Candi Borobudur. Sangat sedikit papan reklame besar yang seharusnya menawarkan paket-paket wisata. Bahkan sepertinya mereka tidak melihat satupun iklan paket wisata atau obyek wisata apa yang ditawarkan di tempat itu. Untungnya beberapa hari sebelumnya, Lex telah menyusun kegiatan di sana. Mereka akan menghibur diri sendiri dengan mencari petualangannya sendiri dengan Danau Toba.
    Berjalan memasuki area danau, untuk mencari penginapan murah yang sebisa mungkin membelakangi Danau Toba. Yang bisa berleha-leha sambil menikmati pemandangan danau. Dan setelah berjalan cukup jauh, akhirnya mereka menemukan satu penginapan dengan harga terjangkau dan pastinya balkon menghadap danau. Kamarnya cukup bersih, luas, berisi dua kasur empuk, tapi tidak ber AC. Tentu bukan jadi masalah, karena udara di pinggir danau ini cukup dingin tapi tidak berasa menusuk tulang seperti musim dingin di beberapa negara Asia. Kamar mandinya juga bersih, dilengkapi dengan fasilitas air panas. Beruntungnya mereka.
    Setelah istirahat sejenak dan mandi air hangat, dua sahabat ini mencari warung makan di sekitar penginapan. Sudah banyak yang tutup mengingat waktu sudah hampir jam sembilan malam. Salah satu yang buka menyediakan menu andalan nasi goreng. Tidak bertanggung jawab akan julukannya sebagai menu andalan, nasi gorengnya hambar. Hanya terasa rasa minyak di goreng tanpa rasa gurih atau asin sedikitpun. Mungkin karena hampir tutup jadi bumbu yang dimasukkan hanya tinggal sisa saja. Meski begitu, mereka berdua terlihat lahap menikmatinya. Berbincang-bincang ditemani nasi goreng hambar di balkon hotel yang menghadap danau. Sejuta bibit kebahagiaan telah tertanam di otak mereka yang dihasilkan suasana eksotis danau, masuk melalui mata yang terhipnotis dan terpancar melalui senyum kecil di bibir mereka.bersambung ke “That would be Toba Dream”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*